Cara Menyajikan Hasil Wawancara dalam Bab Hasil dan Pembahasan Skripsi

Hasil wawancara menjadi salah satu sumber data yang banyak digunakan dalam penelitian kualitatif. Setelah proses wawancara selesai, data perlu ditranskripsikan, dikoding, dianalisis, dan kemudian disajikan dalam bab hasil dan pembahasan skripsi.

Penyajian hasil wawancara tidak cukup hanya dengan menyalin seluruh jawaban narasumber ke dalam skripsi. Data perlu dipilih, dikelompokkan, dan dijelaskan berdasarkan fokus penelitian agar pembaca dapat memahami temuan yang diperoleh.

Bab hasil dan pembahasan memiliki peran penting karena menjadi bagian yang menunjukkan apa yang ditemukan dalam penelitian dan bagaimana temuan tersebut dapat dipahami berdasarkan teori maupun penelitian terdahulu.

Agar penulisan tidak berubah menjadi kumpulan kutipan wawancara, peneliti perlu memiliki struktur yang jelas. Setiap kutipan harus memiliki fungsi untuk mendukung temuan, sementara uraian setelahnya menjelaskan makna dari data tersebut.

Apa Itu Penyajian Hasil Wawancara?

Penyajian hasil wawancara adalah proses menyusun data yang diperoleh dari narasumber ke dalam bentuk tulisan yang sistematis. Data biasanya berasal dari transkrip wawancara yang telah melalui proses coding dan pengelompokan tema.

Dalam skripsi, hasil wawancara dapat disajikan dalam bentuk narasi, kutipan langsung, tabel, atau kombinasi beberapa bentuk tersebut. Pemilihannya bergantung pada jenis penelitian dan pedoman penulisan kampus.

Kutipan langsung digunakan untuk menunjukkan pernyataan asli narasumber. Sementara narasi peneliti digunakan untuk menjelaskan konteks, pola, dan makna dari kutipan tersebut.

Penyajian yang baik membuat pembaca dapat memahami hubungan antara data lapangan dengan pertanyaan penelitian. Karena itu, peneliti perlu menghindari memasukkan seluruh isi wawancara tanpa melakukan seleksi.

Perbedaan Bab Hasil dan Bab Pembahasan

Dalam beberapa format skripsi, hasil dan pembahasan dapat ditempatkan dalam satu bab. Dalam format lainnya, keduanya dipisahkan menjadi bab yang berbeda.

Bagian hasil berfokus pada temuan penelitian. Peneliti menjelaskan data yang ditemukan dari wawancara berdasarkan kategori atau tema yang telah ditentukan.

Sementara itu, bagian pembahasan berfungsi untuk menginterpretasikan temuan. Pada bagian ini, hasil wawancara dapat dihubungkan dengan teori, konsep, atau penelitian terdahulu yang relevan.

Jika kedua bagian digabungkan, peneliti dapat menyajikan temuan kemudian langsung memberikan pembahasan pada subbagian yang sama.

Contohnya, peneliti terlebih dahulu menjelaskan bahwa sebagian narasumber mengalami kendala dalam menggunakan layanan digital. Setelah itu, peneliti menyajikan kutipan dan menjelaskan bagaimana temuan tersebut berkaitan dengan teori yang digunakan.

Persiapan Sebelum Menulis Hasil Wawancara

Sebelum mulai menulis, pastikan seluruh transkrip sudah diperiksa. Kesalahan dalam transkripsi dapat memengaruhi isi kutipan dan interpretasi hasil penelitian.

Setelah itu, periksa hasil coding. Kelompokkan kode yang memiliki hubungan menjadi kategori, kemudian susun tema utama yang sesuai dengan pertanyaan penelitian.

Misalnya penelitian membahas pengalaman mahasiswa menggunakan pembelajaran daring. Hasil coding dapat menghasilkan kategori seperti kendala teknologi, fleksibilitas waktu, interaksi dengan dosen, dan pemahaman materi.

Kategori tersebut kemudian dapat menjadi dasar untuk menyusun subjudul dalam bab hasil dan pembahasan.

Peneliti juga perlu menentukan kutipan mana yang paling mewakili setiap tema. Tidak semua jawaban narasumber harus dimasukkan ke dalam skripsi.

Menentukan Struktur Bab Hasil dan Pembahasan

Struktur bab perlu mengikuti alur pertanyaan penelitian. Jika penelitian memiliki tiga pertanyaan penelitian, pembahasan dapat dibagi menjadi tiga bagian utama.

Misalnya:

  1. Pengalaman narasumber dalam menggunakan layanan.
  2. Kendala yang dihadapi narasumber.
  3. Strategi narasumber dalam mengatasi kendala.

Struktur tersebut membantu pembaca mengikuti alur penelitian. Peneliti juga dapat menggunakan tema hasil coding sebagai dasar subjudul selama tema tersebut relevan dengan fokus penelitian.

Hindari membuat subjudul yang terlalu umum seperti “Hasil Wawancara”. Subjudul yang lebih spesifik dapat membantu pembaca memahami isi pembahasan.

Contohnya adalah “Pengalaman Mahasiswa dalam Menggunakan Pembelajaran Daring” atau “Kendala Akses Teknologi dalam Pembelajaran”.

Cara Menyajikan Kutipan Wawancara

Kutipan wawancara perlu disajikan secara proporsional. Kutipan langsung digunakan ketika pernyataan narasumber dapat memperkuat atau memberikan bukti terhadap temuan tertentu.

Sebelum kutipan, berikan konteks mengenai siapa yang menyampaikan pernyataan dan topik yang sedang dibahas. Identitas dapat menggunakan kode seperti N1, N2, atau Informan 1 sesuai aturan penelitian.

Contohnya:

Narasumber N1 menjelaskan bahwa kemudahan akses menjadi salah satu alasan ia menggunakan layanan tersebut secara rutin.

“Menurut saya, aksesnya mudah karena saya bisa menggunakan layanan ini kapan saja.”

Kutipan tersebut kemudian perlu dijelaskan. Peneliti dapat menerangkan bahwa pernyataan tersebut menunjukkan adanya persepsi positif terhadap fleksibilitas akses.

Jangan menempatkan kutipan tanpa penjelasan. Pembaca perlu mengetahui alasan kutipan tersebut dianggap penting dalam kaitannya dengan temuan penelitian.

Menggabungkan Narasi dan Kutipan

Penyajian hasil wawancara yang baik biasanya menggabungkan narasi peneliti dengan kutipan narasumber. Narasi digunakan untuk menjelaskan temuan secara umum, sedangkan kutipan berfungsi sebagai bukti.

Misalnya, beberapa narasumber menyatakan bahwa kecepatan layanan memengaruhi pengalaman mereka. Peneliti dapat menjelaskan pola tersebut terlebih dahulu.

Setelah itu, satu atau dua kutipan yang representatif dapat ditampilkan. Kemudian, peneliti menjelaskan kembali makna kutipan tersebut dan menghubungkannya dengan temuan lain.

Pola ini lebih efektif dibandingkan menampilkan kutipan dari setiap narasumber secara berurutan tanpa analisis.

Poin Penting dalam Penyajian Hasil Wawancara

Agar penyajian hasil wawancara tetap rapi dan mudah dipahami, beberapa hal perlu diperhatikan:

  1. Pilih kutipan yang benar-benar berkaitan dengan fokus penelitian.
  2. Gunakan kode narasumber secara konsisten.
  3. Jelaskan konteks sebelum atau sesudah kutipan.
  4. Jangan memasukkan seluruh isi transkrip ke dalam skripsi.
  5. Kelompokkan hasil berdasarkan tema atau pertanyaan penelitian.
  6. Hubungkan temuan dengan teori pada bagian pembahasan.
  7. Pertahankan makna asli pernyataan narasumber.
  8. Gunakan tabel jika data membutuhkan perbandingan yang lebih jelas.

Poin tersebut membantu menjaga keseimbangan antara data lapangan dan analisis peneliti. Skripsi sebaiknya tidak didominasi kutipan, tetapi juga tidak boleh kehilangan bukti dari wawancara.

Jasa analisis data tugas akhir

Menggunakan Tabel untuk Menyajikan Hasil Wawancara

Tabel dapat digunakan jika peneliti ingin memperlihatkan perbandingan jawaban dari beberapa narasumber. Namun, tabel sebaiknya digunakan hanya ketika memang membantu pembaca memahami data.

Contoh:

Tema Narasumber Temuan Utama
Kemudahan akses N1 Dapat digunakan kapan saja
Kemudahan akses N2 Proses akses sederhana
Kendala teknis N3 Mengalami gangguan jaringan
Kendala teknis N4 Perangkat kurang mendukung

Setelah tabel, berikan penjelasan dalam bentuk paragraf. Tabel tidak seharusnya menjadi satu-satunya bentuk penyajian karena pembaca tetap membutuhkan interpretasi dari peneliti.

Tabel dapat membantu memperlihatkan pola, tetapi narasi menjelaskan makna dari pola tersebut.

Menyusun Hasil Berdasarkan Tema

Tema hasil wawancara dapat menjadi dasar utama dalam menyusun bab hasil. Setiap tema dapat dibuat menjadi subbagian yang membahas satu pola tertentu.

Misalnya penelitian menghasilkan tiga tema utama, yaitu “Kemudahan Penggunaan”, “Kendala Teknis”, dan “Kualitas Layanan”.

Peneliti dapat membuat subbagian untuk masing-masing tema. Pada setiap bagian, jelaskan temuan, tampilkan kutipan yang relevan, kemudian berikan interpretasi.

Penyusunan berdasarkan tema membuat data dari beberapa narasumber dapat dibahas secara bersamaan. Peneliti tidak perlu membuat satu subbab khusus untuk setiap narasumber.

Cara tersebut juga membantu pembaca melihat pola penelitian secara lebih jelas.

Menghubungkan Hasil Wawancara dengan Teori

Setelah temuan dijelaskan, bagian pembahasan dapat menghubungkannya dengan teori. Hubungan tersebut dapat berupa kesesuaian, perbedaan, atau pengembangan pemahaman terhadap konsep yang digunakan.

Misalnya teori menyatakan bahwa kemudahan penggunaan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penerimaan teknologi. Hasil wawancara menunjukkan bahwa beberapa narasumber memilih menggunakan aplikasi karena navigasinya sederhana.

Peneliti dapat menjelaskan bahwa temuan tersebut memiliki hubungan dengan konsep kemudahan penggunaan. Kutipan wawancara digunakan sebagai bukti empiris, sedangkan teori membantu menjelaskan temuan.

Jika hasil wawancara berbeda dengan teori, perbedaan tersebut juga perlu dibahas. Peneliti dapat menjelaskan konteks yang mungkin memengaruhi munculnya temuan tersebut tanpa memaksakan data agar sesuai dengan teori.

Membandingkan Jawaban Antar-Narasumber

Perbandingan jawaban dapat membantu menemukan persamaan dan perbedaan dalam data. Peneliti dapat melihat apakah suatu tema muncul pada banyak narasumber atau hanya pada kondisi tertentu.

Misalnya, sebagian besar narasumber menyatakan bahwa layanan mudah digunakan. Namun, beberapa narasumber menganggap fitur tertentu masih sulit dipahami.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa satu pengalaman tidak selalu sama untuk semua narasumber. Perbedaan tersebut dapat menjadi bagian dari pembahasan jika relevan dengan pertanyaan penelitian.

Peneliti perlu menyajikan variasi data secara proporsional. Jangan hanya memilih kutipan yang mendukung kesimpulan tertentu dan mengabaikan data yang berbeda.

Menjaga Kerahasiaan Identitas Narasumber

Penyajian hasil wawancara harus memperhatikan kerahasiaan narasumber. Jika identitas asli tidak diperlukan, gunakan kode atau pseudonim sesuai ketentuan penelitian.

Misalnya, gunakan N1 untuk Narasumber 1 dan N2 untuk Narasumber 2. Pastikan penggunaan kode konsisten dari awal hingga akhir skripsi.

Informasi pribadi yang tidak berkaitan dengan penelitian sebaiknya tidak dicantumkan. Tujuannya untuk menjaga privasi narasumber dan memastikan data yang disajikan tetap relevan.

Jika penelitian memiliki aturan khusus mengenai penyebutan identitas, ikuti ketentuan dari kampus atau prosedur etika penelitian yang berlaku.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Salah satu kesalahan dalam penyajian hasil wawancara adalah memasukkan terlalu banyak kutipan. Banyaknya kutipan tidak otomatis membuat pembahasan lebih kuat.

Kesalahan lainnya adalah menampilkan kutipan tanpa analisis. Kutipan seharusnya menjadi bukti yang mendukung penjelasan peneliti.

Peneliti juga perlu menghindari pengulangan. Jika beberapa narasumber memberikan jawaban yang hampir sama, tidak semua kutipan perlu ditampilkan. Pilih kutipan yang paling jelas dan representatif.

Selain itu, jangan mencampurkan hasil wawancara dengan opini pribadi tanpa dasar. Setiap interpretasi harus memiliki hubungan dengan data dan teori yang digunakan.

Tips agar Bab Hasil dan Pembahasan Lebih Rapi

Penulisan bab hasil dan pembahasan akan lebih mudah jika peneliti membuat kerangka sebelum mulai menulis. Susun tema, kategori, kutipan, dan teori yang relevan dalam sebuah tabel.

Setelah struktur terbentuk, tulis setiap subbagian berdasarkan pola yang sama. Mulai dari penjelasan temuan, lanjutkan dengan kutipan, kemudian berikan interpretasi dan hubungan dengan teori.

Gunakan paragraf yang tidak terlalu panjang. Satu paragraf sebaiknya memiliki satu gagasan utama agar pembaca dapat mengikuti pembahasan dengan mudah.

Periksa kembali setiap kutipan sebelum skripsi dikumpulkan. Pastikan kutipan sesuai dengan transkrip asli dan kode narasumber tidak tertukar.

Kesimpulan

Penyajian hasil wawancara dalam bab hasil dan pembahasan skripsi perlu dilakukan secara sistematis. Data tidak cukup hanya ditampilkan dalam bentuk kutipan, tetapi harus dikelompokkan berdasarkan tema dan dijelaskan sesuai dengan fokus penelitian.

Langkah utama dimulai dari memeriksa transkrip, melakukan coding, menentukan tema, memilih kutipan yang relevan, kemudian menyusun narasi berdasarkan hasil analisis.

Kutipan wawancara berfungsi sebagai bukti data, sedangkan narasi peneliti menjelaskan konteks dan makna temuan. Pada bagian pembahasan, temuan dapat dihubungkan dengan teori dan penelitian terdahulu yang relevan.

Dengan struktur yang jelas, penggunaan kutipan yang proporsional, serta analisis yang tetap berangkat dari data, bab hasil dan pembahasan akan menjadi lebih terarah. Penyajian seperti ini juga membantu pembaca memahami bagaimana data wawancara digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Open chat
Halo, apa yang bisa kami bantu?