Cara Menghitung Skala Likert pada Data Kuesioner Penelitian

Skala Likert merupakan salah satu jenis skala pengukuran yang paling sering digunakan dalam kuesioner penelitian. Skala ini digunakan untuk mengetahui sikap, pendapat, persepsi, tingkat persetujuan, atau penilaian responden terhadap suatu pernyataan.

Penggunaan skala Likert membuat jawaban responden dapat diubah menjadi data berbentuk angka. Data tersebut kemudian dapat dihitung dan dianalisis menggunakan metode statistik sesuai dengan tujuan penelitian. Karena itu, memahami cara menghitung skala Likert menjadi bagian penting bagi mahasiswa, peneliti, maupun pihak yang sedang mengolah data kuesioner.

Pada praktiknya, penghitungan skala Likert tidak hanya berkaitan dengan menjumlahkan skor jawaban responden. Peneliti juga perlu memahami pemberian skor, jumlah responden, jumlah item pertanyaan, skor maksimum dan minimum, serta cara menentukan hasil interpretasinya.

Dengan proses penghitungan yang tepat, data kuesioner dapat disajikan dalam bentuk skor, persentase, maupun kategori tertentu sehingga hasil penelitian lebih mudah dipahami.

Pengertian Skala Likert

Skala Likert adalah metode pengukuran yang memberikan sejumlah pilihan jawaban kepada responden berdasarkan tingkat persetujuan atau penilaian terhadap suatu pernyataan.

Salah satu bentuk skala Likert yang umum digunakan terdiri dari lima pilihan jawaban, yaitu Sangat Tidak Setuju, Tidak Setuju, Netral, Setuju, dan Sangat Setuju.

Setiap pilihan jawaban diberikan skor tertentu. Pada skala positif lima tingkat, skor biasanya dimulai dari 1 untuk Sangat Tidak Setuju hingga 5 untuk Sangat Setuju.

Artinya, semakin tinggi skor yang diberikan responden, semakin tinggi pula tingkat persetujuan terhadap pernyataan yang diberikan, selama pernyataan tersebut memiliki arah positif.

Skala Likert juga dapat menggunakan jumlah kategori yang berbeda, misalnya empat atau tujuh tingkat. Jumlah kategori harus ditentukan sejak penyusunan instrumen dan digunakan secara konsisten pada proses pengolahan data.

Contoh Skor pada Skala Likert

Sebelum memahami cara menghitung skala Likert, peneliti perlu menentukan bobot setiap pilihan jawaban. Untuk skala lima tingkat, contoh pembobotannya adalah sebagai berikut.

Sangat Tidak Setuju memiliki skor 1. Tidak Setuju memiliki skor 2. Netral memiliki skor 3. Setuju memiliki skor 4. Sementara itu, Sangat Setuju memiliki skor 5.

Bobot tersebut digunakan untuk mengubah jawaban responden yang bersifat kualitatif menjadi data numerik.

Sebagai contoh, terdapat 10 responden yang menjawab sebuah pernyataan. Jika 2 responden memilih skor 3, 5 responden memilih skor 4, dan 3 responden memilih skor 5, maka skor total dapat dihitung dengan mengalikan jumlah responden pada setiap pilihan dengan bobotnya.

Perhitungannya adalah 2 × 3 = 6, 5 × 4 = 20, dan 3 × 5 = 15. Total skor yang diperoleh adalah 41.

Nilai tersebut kemudian dapat digunakan untuk melakukan perhitungan lanjutan sesuai kebutuhan penelitian.

Cara Menghitung Skor Total Skala Likert

Cara paling dasar untuk menghitung skor skala Likert adalah menjumlahkan seluruh skor jawaban responden.

Rumus sederhananya adalah:

Skor Total = Jumlah Skor Seluruh Jawaban Responden

Misalnya, sebuah kuesioner memiliki 5 pertanyaan dengan skala 1 sampai 5. Jika terdapat 20 responden, maka jumlah jawaban yang dianalisis adalah 100 respons.

Apabila seluruh skor dari 100 respons tersebut dijumlahkan dan menghasilkan angka 380, maka skor total penelitian untuk item atau variabel tersebut adalah 380.

Skor total belum selalu cukup untuk menjelaskan posisi hasil penelitian. Oleh karena itu, peneliti dapat membandingkannya dengan skor maksimum atau menghitung nilai rata-rata.

Cara Menghitung Nilai Rata-Rata

Nilai rata-rata atau mean digunakan untuk mengetahui kecenderungan umum jawaban responden.

Rumusnya adalah:

Mean = Skor Total ÷ Jumlah Jawaban

Sebagai contoh, skor total dari 100 jawaban adalah 380. Maka:

Mean = 380 ÷ 100 = 3,8

Jika skala yang digunakan memiliki rentang 1 sampai 5, nilai rata-rata 3,8 menunjukkan kecenderungan jawaban berada pada tingkat yang cukup tinggi. Namun, kategori akhir harus mengikuti interval interpretasi yang ditetapkan dalam penelitian.

Penggunaan nilai rata-rata sering membantu ketika peneliti ingin membandingkan beberapa indikator dalam satu variabel.

Cara Menghitung Persentase Skala Likert

Selain menggunakan rata-rata, hasil kuesioner dapat disajikan dalam bentuk persentase. Persentase digunakan untuk menunjukkan seberapa besar skor aktual dibandingkan dengan skor maksimum yang mungkin diperoleh.

Rumusnya adalah:

Persentase = (Skor Total ÷ Skor Maksimum) × 100%

Misalnya, terdapat 100 jawaban dengan skala maksimum 5. Maka skor maksimum adalah:

100 × 5 = 500

Jika skor aktual yang diperoleh adalah 380, maka:

Persentase = (380 ÷ 500) × 100% = 76%

Dengan demikian, hasil pengukuran memperoleh persentase sebesar 76%.

Interpretasi apakah 76% termasuk kategori baik, tinggi, atau sangat baik perlu ditentukan berdasarkan interval kategori yang digunakan oleh peneliti.

Cara Menghitung Skor Maksimum dan Minimum

Skor maksimum dan minimum diperlukan untuk mengetahui rentang nilai yang mungkin diperoleh dari data kuesioner.

Rumus skor maksimum adalah:

Skor Maksimum = Jumlah Responden × Jumlah Item × Skor Tertinggi

Sedangkan skor minimum adalah:

Skor Minimum = Jumlah Responden × Jumlah Item × Skor Terendah

Sebagai contoh, penelitian memiliki 50 responden dan 10 item pertanyaan dengan skala 1 sampai 5.

Skor maksimum:

50 × 10 × 5 = 2.500

Skor minimum:

50 × 10 × 1 = 500

Dengan demikian, skor aktual penelitian dapat dibandingkan dengan rentang skor minimum 500 dan maksimum 2.500.

Cara Menentukan Interval Kategori

Setelah mendapatkan skor, peneliti dapat menentukan kategori interpretasi. Salah satu cara yang sering digunakan adalah menghitung panjang interval.

Rumusnya adalah:

Interval = (Skor Maksimum − Skor Minimum) ÷ Jumlah Kategori

Misalnya skor minimum adalah 500 dan skor maksimum 2.500, sedangkan peneliti menggunakan lima kategori.

Interval = (2.500 − 500) ÷ 5

Interval = 400

Hasil tersebut kemudian dapat digunakan untuk membagi rentang skor menjadi beberapa kategori. Peneliti harus menetapkan batas kategori secara konsisten dan menjelaskan metode yang digunakan dalam laporan penelitian.

Kategori tersebut dapat berupa sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Istilah kategori dapat disesuaikan dengan tujuan penelitian.

Jasa analisis data tugas akhir

Contoh Perhitungan Skala Likert

Untuk memahami cara menghitung skala Likert secara lebih jelas, misalnya sebuah penelitian memiliki 30 responden dengan 5 item pertanyaan. Setiap pertanyaan menggunakan skala 1 sampai 5.

Setelah seluruh jawaban dikumpulkan, peneliti memperoleh skor total sebesar 610.

Skor maksimum yang mungkin diperoleh adalah:

30 × 5 × 5 = 750

Kemudian persentasenya dihitung:

(610 ÷ 750) × 100% = 81,33%

Dengan hasil tersebut, persentase skor kuesioner adalah sekitar 81,33%.

Jika peneliti telah menetapkan interval kategori tertentu, angka tersebut kemudian dicocokkan dengan kategori yang sesuai.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa perhitungan tidak berhenti pada penjumlahan skor. Peneliti perlu membandingkan skor aktual dengan skor yang mungkin dicapai untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas.

Poin Penting dalam Menghitung Skala Likert

Beberapa hal perlu diperhatikan agar penghitungan skala Likert tidak menghasilkan interpretasi yang keliru.

  1. Tentukan bobot jawaban sejak awal. Pastikan setiap pilihan jawaban memiliki skor yang jelas dan konsisten. Jika menggunakan lima kategori, jangan mengubah bobot ketika proses pengolahan data sudah berlangsung.
  2. Perhatikan pernyataan negatif. Jika terdapat item yang bersifat negatif, arah skornya perlu disesuaikan melalui proses reverse scoring. Pada skala 1 sampai 5, skor 1 dapat dibalik menjadi 5, skor 2 menjadi 4, skor 3 tetap 3, skor 4 menjadi 2, dan skor 5 menjadi 1.
  3. Hitung berdasarkan jumlah item yang sebenarnya. Jika satu variabel memiliki 10 item, maka skor maksimum harus dihitung berdasarkan 10 item tersebut, bukan jumlah pertanyaan seluruh kuesioner.
  4. Gunakan kategori yang konsisten. Setelah menentukan interval, gunakan batas tersebut secara konsisten ketika menginterpretasikan hasil setiap variabel.

Cara Menghitung Skala Likert untuk Setiap Variabel

Dalam penelitian, satu variabel biasanya diukur menggunakan beberapa item pertanyaan. Karena itu, peneliti dapat menghitung skor masing-masing item terlebih dahulu kemudian menjumlahkannya menjadi skor variabel.

Misalnya variabel kualitas pelayanan memiliki 5 indikator. Setiap indikator memiliki satu item pertanyaan. Skor dari kelima item kemudian dijumlahkan untuk setiap responden.

Jika seorang responden memperoleh skor 4, 5, 4, 3, dan 5, maka skor variabel responden tersebut adalah 21.

Proses yang sama dilakukan pada seluruh responden. Setelah itu, peneliti dapat menghitung skor total, rata-rata, atau persentase sesuai kebutuhan.

Cara tersebut membantu peneliti melihat kecenderungan suatu variabel secara keseluruhan, bukan hanya berdasarkan satu pertanyaan.

Mengolah Skala Likert Menggunakan Excel

Penghitungan skala Likert dapat dilakukan secara manual, tetapi penggunaan Microsoft Excel dapat mempercepat proses jika jumlah responden cukup banyak.

Data biasanya disusun dengan responden pada baris dan item pertanyaan pada kolom. Setelah itu, fungsi SUM dapat digunakan untuk menghitung total skor dan fungsi AVERAGE untuk menghitung rata-rata.

Misalnya skor lima item berada pada kolom B sampai F. Total skor responden dapat dihitung menggunakan fungsi SUM pada rentang tersebut. Rata-rata dapat dihitung menggunakan fungsi AVERAGE.

Excel juga dapat digunakan untuk menghitung persentase dan membantu mengelompokkan hasil berdasarkan kategori. Dengan struktur data yang rapi, risiko kesalahan penghitungan dapat dikurangi.

Mengolah Skala Likert Menggunakan SPSS

SPSS juga sering digunakan untuk mengolah data kuesioner, terutama pada penelitian kuantitatif dengan jumlah responden yang lebih banyak.

Data jawaban kuesioner dimasukkan ke dalam Data View, sedangkan informasi mengenai variabel dan kode jawaban dapat diatur melalui Variable View.

Setelah data dimasukkan, peneliti dapat melakukan analisis deskriptif untuk memperoleh nilai mean, standar deviasi, minimum, dan maksimum. Jika penelitian membutuhkan pengujian lebih lanjut, data tersebut dapat digunakan untuk uji validitas, reliabilitas, korelasi, regresi, atau metode statistik lainnya.

Penggunaan SPSS tidak menggantikan pemahaman terhadap metode penelitian. Peneliti tetap harus menentukan jenis analisis dan cara interpretasinya berdasarkan tujuan penelitian.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

Kesalahan yang sering terjadi dalam penghitungan skala Likert adalah salah memberikan bobot pada pilihan jawaban. Kesalahan lain adalah tidak memperhatikan item pertanyaan negatif sehingga skor tidak dibalik.

Peneliti juga perlu menghindari penggunaan kategori tanpa menjelaskan dasar pembentukannya. Jika hasil penelitian menyebutkan bahwa suatu variabel berada dalam kategori tinggi, pembaca harus dapat mengetahui bagaimana kategori tersebut ditentukan.

Selain itu, jangan menyamakan nilai rata-rata dengan persentase. Keduanya merupakan bentuk penyajian hasil yang berbeda dan memiliki rumus masing-masing.

Kesimpulan

Cara menghitung skala Likert pada data kuesioner dapat dilakukan dengan beberapa tahap, mulai dari memberikan skor pada setiap jawaban, menjumlahkan skor, menghitung rata-rata, menentukan skor maksimum dan minimum, hingga menghitung persentase dan kategori interpretasi.

Skala Likert membantu peneliti mengubah jawaban responden menjadi data numerik yang lebih mudah diolah. Namun, proses penghitungan harus dilakukan secara konsisten, terutama dalam menentukan bobot jawaban dan menangani pernyataan negatif.

Dengan memahami dasar penghitungan tersebut, peneliti dapat mengolah data kuesioner secara lebih terstruktur. Hasilnya kemudian dapat digunakan sebagai dasar untuk analisis statistik berikutnya sesuai dengan tujuan dan metode penelitian yang telah ditetapkan.

Open chat
Halo, apa yang bisa kami bantu?