Banyak mahasiswa mengalami kesulitan saat merumuskan masalah penelitian, meskipun telah memiliki topik dan judul yang jelas. Kebingungan ini biasanya muncul karena belum mampu mengubah fenomena penelitian menjadi pertanyaan yang spesifik, terarah, dan dapat diteliti secara ilmiah. Rumusan masalah yang tidak tepat sering berdampak pada penelitian yang melebar, metode yang tidak sesuai, hingga analisis data yang kurang fokus. Oleh karena itu, artikel ini disusun untuk membantu pembaca memahami cara merumuskan masalah penelitian dengan benar melalui penjelasan yang mudah dipahami dan contoh-contoh konkret, sehingga dapat menjadi panduan praktis dalam menyusun penelitian yang lebih terarah dan berkualitas.
Pengertian Rumusan Masalah Penelitian
Rumusan masalah penelitian merupakan pernyataan atau pertanyaan yang secara jelas menggambarkan fokus utama penelitian. Menurut Sugiyono, rumusan masalah adalah pertanyaan penelitian yang didasarkan pada kesenjangan antara kondisi ideal dan kondisi nyata yang ditemukan di lapangan. Sementara itu, Creswell menyatakan bahwa rumusan masalah berfungsi sebagai inti dari penelitian karena menentukan arah pengumpulan data, analisis, dan interpretasi hasil. Dengan kata lain, rumusan masalah menjadi titik awal yang mengarahkan seluruh proses penelitian ilmiah.
Dalam penelitian ilmiah, rumusan masalah memiliki peran yang sangat penting. Rumusan masalah berfungsi sebagai pedoman dalam menentukan tujuan penelitian, memilih metode yang sesuai, menetapkan variabel atau fokus kajian, serta menyusun teknik analisis data. Tanpa rumusan masalah yang jelas, penelitian cenderung kehilangan arah, sulit dibatasi ruang lingkupnya, dan berpotensi menghasilkan temuan yang kurang relevan.
Adapun ciri rumusan masalah yang baik dan benar antara lain ditulis secara jelas dan spesifik, relevan dengan latar belakang penelitian, serta dapat diteliti secara ilmiah. Rumusan masalah juga sebaiknya disusun dalam bentuk pertanyaan, menggunakan bahasa yang lugas, dan sesuai dengan pendekatan penelitian yang digunakan. Dengan memenuhi ciri-ciri tersebut, rumusan masalah akan membantu peneliti menghasilkan penelitian yang sistematis, fokus, dan berkualitas.
Pentingnya Rumusan Masalah dalam Penelitian
Rumusan masalah memiliki peran otoritatif sebagai penentu arah dan fokus penelitian. Rumusan masalah yang jelas akan membatasi ruang lingkup kajian sehingga penelitian tidak melebar ke luar topik yang telah ditetapkan. Dengan adanya rumusan masalah, peneliti dapat menjaga konsistensi pembahasan sejak tahap perencanaan hingga penarikan kesimpulan. Inilah sebabnya rumusan masalah sering disebut sebagai “kompas” dalam penelitian ilmiah.
Selain itu, rumusan masalah memiliki hubungan yang sangat erat dengan tujuan penelitian, metode yang digunakan, serta teknik analisis data. Tujuan penelitian pada dasarnya merupakan jawaban yang ingin dicapai dari rumusan masalah, sedangkan metode penelitian dipilih untuk menjawab pertanyaan tersebut secara sistematis. Demikian pula, analisis data disusun berdasarkan jenis dan bentuk rumusan masalah, sehingga ketiganya harus saling selaras agar penelitian berjalan secara logis dan terstruktur.
Para ahli metodologi penelitian menegaskan urgensi rumusan masalah dalam penelitian ilmiah. Kerlinger menyatakan bahwa penelitian tanpa rumusan masalah yang jelas akan sulit menghasilkan temuan yang bermakna. Senada dengan itu, Creswell menekankan bahwa rumusan masalah merupakan inti dari desain penelitian karena memengaruhi seluruh keputusan metodologis. Pandangan para ahli ini menegaskan bahwa kualitas penelitian sangat ditentukan oleh ketepatan dan kejelasan rumusan masalah yang disusun sejak awal.
Prinsip Menyusun Rumusan Masalah yang Baik
Agar rumusan masalah tidak hanya formalitas, tetapi benar-benar kuat secara akademik, berikut prinsip-prinsip penting yang perlu diperhatikan:
1. Berasal dari Latar Belakang dan Research Gap
Rumusan masalah harus lahir secara logis dari latar belakang penelitian. Artinya, masalah yang dirumuskan merupakan jawaban atas fenomena, data, dan research gap yang telah dipaparkan sebelumnya. Jika latar belakang menjelaskan “mengapa penelitian perlu dilakukan”, maka rumusan masalah menjawab “apa yang perlu diteliti”.
2. Ditulis dalam Bentuk Pertanyaan Penelitian
Rumusan masalah sebaiknya disusun dalam bentuk pertanyaan agar fokus penelitian menjadi jelas. Bentuk pertanyaan membantu peneliti menentukan arah pengumpulan data dan analisis. Pertanyaan penelitian juga memudahkan pembaca memahami tujuan utama penelitian yang akan dilakukan.
3. Jelas, Spesifik, dan Terukur
Rumusan masalah yang baik tidak bersifat umum atau ambigu. Masalah harus dirumuskan secara jelas, menyebutkan fokus kajian, serta dapat diukur atau dianalisis secara ilmiah. Rumusan yang terlalu luas akan menyulitkan peneliti dalam menentukan metode dan membatasi ruang lingkup penelitian.
4. Sesuai dengan Pendekatan Penelitian
Rumusan masalah harus disesuaikan dengan pendekatan penelitian yang digunakan.
-
Penelitian kualitatif menekankan pada makna, proses, dan pengalaman.
-
Penelitian kuantitatif fokus pada hubungan, pengaruh, atau perbedaan antarvariabel.
-
Mix method mengombinasikan keduanya secara terintegrasi.
Kesesuaian antara rumusan masalah dan pendekatan penelitian akan membuat penelitian lebih konsisten, sistematis, dan mudah dipertanggungjawabkan secara akademik.
Contoh-Contoh Rumusan Masalah Penelitian Berdasarkan Jenis Penelitian
Agar lebih mudah dipahami dan diaplikasikan, berikut contoh rumusan masalah penelitian yang disusun berdasarkan jenis pendekatan penelitian. Contoh-contoh ini disajikan berdasarkan pengalaman umum mahasiswa dan kaidah metodologi penelitian yang berlaku.
Keterangan:
- Rumusan Masalah Penelitian Kualitatif: Berfokus pada makna, proses, dan pengalaman subjek penelitian. Rumusan masalah kualitatif biasanya menggunakan kata tanya seperti bagaimana dan mengapa, serta tidak menekankan pengukuran angka.
- Rumusan Masalah Penelitian Kuantitatif: Penelitian kuantitatif menekankan pada hubungan, pengaruh, atau perbedaan antarvariabel yang dapat diukur secara statistik. Rumusan masalah biasanya menggunakan kata tanya seperti apakah, seberapa besar, atau adakah pengaruh.
- Rumusan Masalah Penelitian Mix Methode: Penelitian mix method mengombinasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. Rumusan masalah biasanya terdiri dari pertanyaan kuantitatif yang diikuti pertanyaan kualitatif sebagai pendalaman.
Contoh Rumusan Masalah Berdasarkan Bidang Ilmu
Berikut contoh rumusan masalah penelitian berdasarkan bidang ilmu yang sering digunakan dalam penelitian akademik. Contoh-contoh ini disusun sesuai kaidah metodologi penelitian dan dapat dijadikan referensi dalam menyusun skripsi, tesis, maupun penelitian ilmiah lainnya.
Bidang Pendidikan
-
Bagaimana penerapan model pembelajaran berbasis proyek dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa?
-
Apakah terdapat pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa sekolah menengah?
-
Bagaimana peran guru dalam membentuk karakter disiplin peserta didik di lingkungan sekolah?
Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora
-
Bagaimana persepsi masyarakat terhadap perubahan sosial akibat perkembangan teknologi digital?
-
Bagaimana dinamika interaksi sosial antarindividu dalam komunitas multikultural?
-
Apakah faktor sosial budaya berpengaruh terhadap pola partisipasi masyarakat dalam kegiatan sosial?
Bidang Ekonomi dan Bisnis
-
Apakah terdapat pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan?
-
Seberapa besar pengaruh strategi pemasaran digital terhadap keputusan pembelian konsumen?
-
Bagaimana hubungan antara literasi keuangan dan perilaku pengelolaan keuangan pelaku UMKM?
Bidang Kesehatan
-
Apakah terdapat hubungan antara pola hidup sehat dan tingkat kebugaran mahasiswa?
-
Seberapa besar pengaruh aktivitas fisik terhadap tekanan darah pada lansia?
-
Bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat tentang pencegahan penyakit tidak menular?
Bidang Komunikasi
-
Bagaimana pengaruh media sosial terhadap pola komunikasi remaja?
-
Seberapa besar peran komunikasi organisasi dalam meningkatkan kinerja karyawan?
-
Bagaimana strategi komunikasi publik yang digunakan dalam membangun citra lembaga?
Contoh-contoh rumusan masalah di atas menunjukkan bahwa setiap bidang ilmu memiliki karakteristik kajian yang berbeda, sehingga perumusan masalah perlu disesuaikan dengan konteks dan pendekatan keilmuan yang digunakan.
Kesalahan Umum dalam Merumuskan Masalah Penelitian

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah rumusan masalah yang terlalu umum. Rumusan yang terlalu luas membuat penelitian kehilangan fokus dan menyulitkan peneliti dalam menentukan batasan kajian, metode, serta analisis data. Akibatnya, penelitian menjadi tidak mendalam dan sulit menghasilkan temuan yang bermakna.
Kesalahan berikutnya adalah rumusan masalah yang tidak sesuai dengan latar belakang penelitian. Kondisi ini biasanya terjadi ketika rumusan masalah tidak muncul secara logis dari fenomena, data, atau research gap yang telah dipaparkan sebelumnya. Ketidaksesuaian ini dapat menurunkan kepercayaan pembaca terhadap keutuhan dan konsistensi penelitian.
Selain itu, rumusan masalah yang tidak dapat diteliti secara ilmiah juga menjadi kelemahan serius. Rumusan yang bersifat normatif, terlalu abstrak, atau mengandung penilaian subjektif akan sulit dijawab melalui metode penelitian. Hal ini membuat penelitian tidak dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Kesalahan lain yang kerap ditemukan adalah rumusan masalah yang tidak konsisten dengan tujuan penelitian. Padahal, tujuan penelitian seharusnya merupakan jawaban dari rumusan masalah yang diajukan. Ketidakkonsistenan ini dapat mengganggu alur penelitian dan mengurangi kualitas hasil penelitian secara keseluruhan.
Tips Agar Rumusan Masalah Mudah Disetujui Dosen Pembimbing
Banyak mahasiswa mengalami revisi berulang bukan karena topiknya salah, tetapi karena rumusan masalahnya belum tepat. Padahal, dosen pembimbing umumnya lebih mudah menyetujui rumusan masalah yang sejak awal jelas arah, logis, dan realistis. Berikut beberapa tips praktis yang terbukti membantu.
1. Konsultasi Sejak Tahap Awal
Konsultasi dini merupakan langkah strategis agar rumusan masalah tidak keluar dari jalur penelitian. Dengan berdiskusi sejak awal, mahasiswa dapat menghindari kesalahan mendasar yang sering berujung pada revisi panjang.
Manfaat konsultasi awal:
-
Mengetahui kelayakan topik penelitian
-
Mendapat arahan fokus masalah yang tepat
-
Menyesuaikan penelitian dengan bidang keilmuan dosen pembimbing
-
Mengurangi risiko revisi besar di tahap selanjutnya
2. Gunakan Referensi Penelitian Terdahulu
Rumusan masalah yang baik hampir selalu lahir dari bacaan yang cukup. Dengan menjadikan jurnal dan skripsi terdahulu sebagai pijakan, mahasiswa dapat melihat pola penyusunan rumusan masalah yang benar secara akademik.
Referensi membantu mahasiswa untuk:
-
Menemukan research gap yang jelas
-
Menyusun rumusan masalah yang logis dan ilmiah
-
Menunjukkan bahwa penelitian tidak mengulang kajian sebelumnya
Rumusan masalah yang berbasis literatur biasanya dinilai lebih kuat dan meyakinkan oleh dosen pembimbing.
3. Uji Konsistensi dengan Judul dan Tujuan
Salah satu indikator utama rumusan masalah yang baik adalah keselarasan. Setiap rumusan masalah seharusnya:
-
Mewakili judul penelitian
-
Dapat dijawab melalui tujuan penelitian
-
Menjadi dasar pemilihan metode dan analisis data
Jika satu pertanyaan penelitian tidak terhubung dengan judul atau tujuan, maka rumusan tersebut perlu ditinjau ulang.
4. Sesuaikan dengan Kemampuan dan Ketersediaan Data
Rumusan masalah yang terlalu ambisius sering kali justru menjadi penghambat penelitian. Dosen pembimbing cenderung menyetujui rumusan masalah yang realistis dan terukur.
Pastikan rumusan masalah:
-
Sesuai dengan waktu dan kemampuan peneliti
-
Didukung oleh data yang tersedia atau mudah diakses
-
Tidak terlalu kompleks untuk tingkat penelitian (S1, S2, atau S3)
Rumusan masalah yang realistis menunjukkan bahwa mahasiswa memahami batasan penelitian dan siap menjalankannya secara optimal.
Penutup
Contoh-contoh rumusan masalah yang tepat dan sesuai bidang ilmu dapat membantu pembaca memahami bagaimana sebuah masalah penelitian seharusnya dirumuskan. Melalui contoh konkret, pembaca tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu melihat penerapannya secara langsung dalam konteks penelitian yang berbeda-beda.
Dengan demikian, pembaca diharapkan mampu menyusun rumusan masalah secara kritis dan sistematis, berangkat dari latar belakang dan research gap yang jelas. Sikap cermat dan terencana dalam merumuskan masalah akan membantu menghasilkan penelitian yang lebih terarah, berkualitas, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Namun, jika Anda memiliki permasalahan serius maupun keterbatasan dalam menentukan rumusan masalah, judul, analisis data, dan lain sebagainya, Akademia bisa membantu Anda menyelesaikan step by step skripsi yang terasa menyulitkan. Konsultasikan semua permasalahan skripsi Anda sekarang di Akademia!
