Memilih software analisis data sering kali menjadi salah satu keputusan yang membuat mahasiswa bingung. Setelah proposal disetujui dan data mulai terkumpul, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting dari menentukan judul penelitian: apakah sebaiknya menggunakan SmartPLS atau SPSS?
Banyak mahasiswa menganggap SmartPLS lebih canggih karena sering digunakan dalam tesis, disertasi, dan jurnal internasional. Di sisi lain, SPSS masih menjadi software yang paling populer di kalangan mahasiswa karena lebih familiar dan relatif mudah dipelajari. Akibatnya, tidak sedikit peneliti pemula yang merasa harus menggunakan SmartPLS agar penelitiannya terlihat lebih “berkelas”.
Padahal, memilih software analisis data tidak berbeda jauh dengan memilih kendaraan untuk perjalanan. Kendaraan terbaik bukanlah yang paling mahal atau paling modern, melainkan yang paling sesuai dengan tujuan perjalanan Anda. Begitu pula dalam penelitian. Software terbaik adalah software yang paling sesuai dengan model penelitian yang Anda gunakan.
Sebelum Memilih, Pahami Dulu Tujuan Penelitian Anda
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah memilih software terlebih dahulu, baru kemudian menyesuaikan model penelitian. Padahal, proses yang benar justru sebaliknya.
Mulailah dengan melihat pertanyaan penelitian yang ingin dijawab. Apakah Anda hanya ingin mengetahui pengaruh satu variabel terhadap variabel lain? Apakah penelitian Anda hanya menggunakan regresi linier? Atau justru Anda ingin menguji hubungan yang lebih kompleks dengan variabel mediasi dan moderasi?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membantu menentukan software yang paling tepat digunakan.
Jika Penelitian Anda Sederhana, SPSS Sering Kali Sudah Lebih dari Cukup
Banyak mahasiswa merasa khawatir jika hanya menggunakan SPSS. Mereka takut penelitian terlihat kurang modern atau kurang kuat secara metodologis. Padahal, kenyataannya tidak demikian.
SPSS telah digunakan selama puluhan tahun untuk berbagai penelitian akademik dan masih menjadi salah satu software statistik paling populer di dunia. Software ini sangat cocok untuk analisis statistik seperti regresi, korelasi, uji t, ANOVA, serta berbagai pengujian statistik lainnya.
Jika model penelitian Anda hanya seperti:
- Pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi akademik.
- Hubungan kualitas layanan dengan kepuasan pelanggan.
- Pengaruh harga dan promosi terhadap keputusan pembelian.
Maka SPSS biasanya sudah mampu menjawab kebutuhan analisis dengan baik.
Yang menarik, SPSS juga memiliki kurva pembelajaran yang lebih ramah bagi mahasiswa yang baru pertama kali melakukan analisis data.

Ketika Model Penelitian Mulai Kompleks, SmartPLS Menjadi Menarik
Situasinya berbeda ketika penelitian mulai melibatkan banyak konstruk, indikator, dan hubungan yang lebih rumit.
Misalnya, Anda ingin meneliti bagaimana kualitas layanan memengaruhi loyalitas pelanggan melalui kepuasan pelanggan sebagai variabel mediasi. Atau Anda ingin menguji apakah kepercayaan pelanggan memperkuat hubungan antara kualitas layanan dan loyalitas.
Pada kondisi seperti ini, SmartPLS mulai menunjukkan keunggulannya.
Software ini memang dikembangkan untuk analisis PLS-SEM (Partial Least Squares Structural Equation Modeling), yang memungkinkan peneliti menguji hubungan kompleks antar variabel laten dalam satu model yang terintegrasi. SmartPLS juga dikenal fleksibel untuk model yang melibatkan mediasi, moderasi, dan berbagai hubungan struktural lainnya.
Perhatikan Variabel yang Digunakan
Salah satu cara termudah menentukan pilihan adalah melihat jenis variabel dalam penelitian Anda.
Bayangkan Anda meneliti variabel seperti:
- Kepuasan pelanggan.
- Loyalitas pelanggan.
- Motivasi belajar.
- Kualitas layanan.
- Kepercayaan konsumen.
Variabel-variabel tersebut sebenarnya tidak dapat diukur secara langsung. Anda biasanya membutuhkan beberapa indikator atau butir pertanyaan untuk mengukurnya.
Dalam kondisi seperti ini, SmartPLS memiliki keunggulan karena dapat menguji hubungan antara indikator dengan konstruk laten sekaligus menguji hubungan antar konstruk tersebut.
Sebaliknya, jika variabel yang digunakan lebih sederhana dan dapat diukur secara langsung, SPSS sering kali menjadi pilihan yang lebih praktis.
Perbandingan Singkat SmartPLS dan SPSS
| Aspek | SPSS | SmartPLS |
|---|---|---|
| Cocok untuk Skripsi | Sangat cocok | Cocok jika model kompleks |
| Kemudahan Belajar | Lebih mudah | Sedikit lebih menantang |
| Analisis Regresi | Sangat baik | Tersedia |
| Analisis Korelasi | Sangat baik | Terbatas |
| Variabel Laten | Kurang optimal | Sangat baik |
| Mediasi dan Moderasi | Bisa dilakukan | Lebih praktis |
| Visualisasi Model | Tidak tersedia | Tersedia |
| Model Kompleks | Terbatas | Sangat baik |
Melihat tabel tersebut, sebenarnya tidak ada yang lebih unggul secara mutlak. Semua kembali pada kebutuhan penelitian.
Jangan Memilih SmartPLS Hanya Karena Sedang Tren
Belakangan ini SmartPLS semakin populer, terutama di kalangan mahasiswa pascasarjana. Popularitas tersebut membuat sebagian mahasiswa sarjana merasa harus menggunakan SmartPLS agar penelitiannya dianggap lebih baik.
Padahal, menggunakan SmartPLS untuk model penelitian yang sebenarnya cukup dianalisis dengan regresi sederhana justru dapat membuat proses penelitian menjadi lebih rumit. Anda harus mempelajari konsep outer model, inner model, bootstrapping, AVE, Composite Reliability, hingga berbagai istilah lain yang mungkin sebenarnya tidak diperlukan.
Karena itu, jangan memilih software hanya karena banyak digunakan orang lain. Pilihlah berdasarkan kebutuhan penelitian Anda sendiri.
Kapan Sebaiknya Memilih SPSS?
SPSS menjadi pilihan yang sangat tepat jika:
- Penelitian menggunakan regresi linier sederhana.
- Penelitian menggunakan regresi linier berganda.
- Penelitian menggunakan korelasi.
- Penelitian menggunakan uji beda.
- Model penelitian relatif sederhana.
- Tujuan penelitian berfokus pada hubungan statistik langsung.
Untuk sebagian besar skripsi tingkat sarjana, SPSS biasanya sudah mampu memenuhi kebutuhan analisis secara optimal.
Kapan Sebaiknya Memilih SmartPLS?
SmartPLS layak dipertimbangkan jika:
- Penelitian menggunakan variabel laten.
- Terdapat banyak indikator pada setiap variabel.
- Model penelitian melibatkan mediasi.
- Model penelitian melibatkan moderasi.
- Penelitian menggunakan pendekatan SEM.
- Hubungan antarvariabel cukup kompleks.
SmartPLS memang dirancang untuk membantu peneliti mengelola model seperti ini secara lebih efektif. Selain itu, software ini dikenal mampu menangani model kompleks dan relatif fleksibel terhadap data yang tidak sepenuhnya normal.
Jangan Lupakan Faktor Dosen Pembimbing
Ada satu hal yang sering terlupakan saat memilih software analisis, yaitu preferensi dosen pembimbing.
Dalam beberapa program studi, SPSS masih menjadi software yang paling sering digunakan dan diajarkan. Sementara pada program studi tertentu, terutama yang banyak menggunakan SEM, SmartPLS sudah menjadi pilihan utama.
Karena itu, sebelum memutuskan menggunakan software tertentu, ada baiknya Anda mendiskusikannya terlebih dahulu dengan dosen pembimbing. Langkah sederhana ini sering kali dapat menghemat banyak waktu dan menghindarkan Anda dari revisi metodologi di kemudian hari.
Pada Akhirnya, Pilih yang Sesuai Kebutuhan
Memilih antara SmartPLS dan SPSS sebenarnya tidak perlu menjadi perdebatan panjang. Keduanya memiliki keunggulan masing-masing dan dirancang untuk kebutuhan yang berbeda. SPSS sangat kuat untuk analisis statistik konvensional dan model penelitian yang relatif sederhana. Sementara itu, SmartPLS unggul dalam menganalisis model penelitian yang kompleks dengan variabel laten, mediasi, dan moderasi.
Alih-alih bertanya software mana yang lebih keren atau lebih modern, pertanyaan yang lebih penting adalah “Software mana yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan penelitian saya?” Ketika Anda mampu menjawab pertanyaan tersebut, pilihan antara SmartPLS dan SPSS biasanya akan menjadi jauh lebih mudah.
