Rumusan masalah merupakan salah satu elemen paling krusial dalam sebuah penelitian. Kejelasan rumusan masalah akan menentukan arah penelitian, metode yang digunakan, hingga jenis data yang dikumpulkan. Tanpa rumusan masalah yang tepat, penelitian berisiko kehilangan fokus dan sulit mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu, kemampuan menyusun rumusan masalah secara sistematis menjadi keterampilan dasar yang wajib dimiliki oleh setiap mahasiswa dan peneliti.
Namun, dalam praktiknya, masih banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan saat merumuskan masalah penelitian. Kesalahan yang sering terjadi antara lain rumusan masalah yang terlalu luas atau terlalu sempit, tidak selaras dengan latar belakang penelitian, serta penggunaan kalimat yang bersifat opini dan tidak dapat diteliti secara ilmiah. Selain itu, rumusan masalah kerap tidak disesuaikan dengan jenis pendekatan penelitian yang digunakan, baik kualitatif, kuantitatif, maupun metode campuran.
Artikel ini disusun untuk membantu mahasiswa dan peneliti pemula memahami konsep rumusan masalah secara lebih praktis dan aplikatif. Melalui penyajian lebih dari 50 contoh rumusan masalah berdasarkan berbagai jenis penelitian, pembaca diharapkan mampu menyusun rumusan masalah yang jelas, terarah, dan sesuai dengan kaidah metodologi penelitian. Dengan demikian, artikel ini dapat menjadi referensi awal yang bermanfaat dalam proses penyusunan proposal, skripsi, tesis, maupun penelitian lainnya.
Pengertian Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam metodologi penelitian dapat diartikan sebagai pernyataan atau pertanyaan penelitian yang secara jelas menggambarkan inti permasalahan yang akan dikaji. Rumusan masalah disusun berdasarkan latar belakang penelitian dan menjadi fokus utama yang ingin dijawab melalui proses pengumpulan serta analisis data. Dalam kaidah ilmiah, rumusan masalah biasanya dinyatakan dalam bentuk kalimat tanya yang bersifat objektif, terukur, dan dapat diteliti.
Peran rumusan masalah sangat penting dalam menentukan arah penelitian. Rumusan masalah berfungsi sebagai penunjuk jalan yang mengarahkan peneliti dalam memilih pendekatan penelitian, metode pengumpulan data, teknik analisis, hingga penyusunan instrumen penelitian. Apabila rumusan masalah disusun dengan jelas dan spesifik, maka seluruh tahapan penelitian akan berjalan lebih terstruktur dan efisien. Sebaliknya, rumusan masalah yang kabur dapat menyebabkan penelitian menjadi melebar dan sulit dikendalikan.
Selain itu, rumusan masalah memiliki hubungan yang erat dengan tujuan dan hipotesis penelitian. Tujuan penelitian pada dasarnya merupakan jawaban yang ingin dicapai dari rumusan masalah yang diajukan. Sementara itu, dalam penelitian kuantitatif, rumusan masalah sering menjadi dasar dalam perumusan hipotesis yang akan diuji secara empiris. Dengan demikian, keselarasan antara rumusan masalah, tujuan penelitian, dan hipotesis menjadi kunci utama agar penelitian memiliki alur yang logis dan sistematis.
Baca juga: Tips Lolos Seleksi Pendanaan Riset
Ciri-Ciri Rumusan Masalah yang Baik
Rumusan masalah yang baik harus disusun secara jelas dan spesifik. Kejelasan ini terlihat dari batasan masalah yang tegas, baik dari segi objek, subjek, maupun konteks penelitian. Rumusan masalah yang terlalu umum akan menyulitkan peneliti dalam menentukan fokus kajian, sedangkan rumusan yang spesifik membantu penelitian berjalan lebih terarah dan mendalam.
Selain itu, rumusan masalah harus dapat diteliti (researchable). Artinya, permasalahan yang dirumuskan memungkinkan untuk dijawab melalui pengumpulan dan analisis data secara ilmiah. Rumusan masalah tidak boleh bersifat normatif, spekulatif, atau sekadar opini pribadi, melainkan harus dapat dibuktikan atau dijelaskan berdasarkan data empiris yang tersedia.
Ciri berikutnya adalah relevan dengan latar belakang masalah. Rumusan masalah harus muncul secara logis dari uraian latar belakang penelitian. Setiap pertanyaan penelitian yang diajukan seharusnya mencerminkan masalah nyata yang telah dijelaskan sebelumnya, sehingga terdapat kesinambungan antara latar belakang dan rumusan masalah.
Rumusan masalah yang baik juga menggunakan kalimat tanya yang tepat. Penggunaan kata tanya seperti bagaimana, apa, sejauh mana, atau apakah harus disesuaikan dengan tujuan penelitian. Pemilihan kata tanya yang tepat akan membantu peneliti menentukan jenis data yang dibutuhkan serta teknik analisis yang akan digunakan.
Terakhir, rumusan masalah harus sesuai dengan jenis penelitian. Penelitian kualitatif, kuantitatif, maupun metode campuran memiliki karakteristik rumusan masalah yang berbeda. Oleh karena itu, peneliti perlu menyesuaikan bentuk dan isi rumusan masalah dengan pendekatan penelitian yang dipilih agar penelitian dapat dilaksanakan secara metodologis dan sistematis.
Kesalahan Umum dalam Menyusun Rumusan Masalah
Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi dalam menyusun rumusan masalah adalah rumusan yang terlalu luas atau terlalu sempit. Rumusan masalah yang terlalu luas membuat penelitian sulit difokuskan dan berpotensi melebar ke berbagai aspek yang tidak relevan. Sebaliknya, rumusan masalah yang terlalu sempit dapat membatasi ruang lingkup penelitian sehingga data yang diperoleh menjadi sangat terbatas dan kurang bermakna secara ilmiah.
Kesalahan berikutnya adalah rumusan masalah yang tidak sesuai dengan data yang tersedia. Banyak mahasiswa merumuskan masalah yang ideal secara konsep, tetapi tidak mempertimbangkan ketersediaan data, waktu, dan akses penelitian. Akibatnya, rumusan masalah sulit dijawab secara empiris karena data yang dibutuhkan tidak dapat dikumpulkan atau diukur dengan metode yang dipilih.
Selain itu, rumusan masalah sering kali tidak sinkron dengan judul penelitian. Ketidaksinkronan ini terlihat ketika judul penelitian membahas satu fokus tertentu, tetapi rumusan masalah justru mengarah pada aspek yang berbeda. Kondisi ini menyebabkan penelitian kehilangan konsistensi dan menyulitkan penyusunan tujuan, kerangka teori, hingga pembahasan hasil penelitian.
Kesalahan lainnya adalah rumusan masalah yang mengandung opini, bukan masalah penelitian. Rumusan masalah seharusnya bersifat objektif dan ilmiah, bukan pernyataan subjektif atau penilaian pribadi peneliti. Penggunaan kata-kata bernuansa opini seperti “seharusnya”, “ideal”, atau “paling baik” tanpa dasar empiris dapat melemahkan kualitas penelitian dan menyimpang dari kaidah metodologi ilmiah.
Jenis-Jenis Rumusan Masalah Berdasarkan Pendekatan Penelitian
Bagian ini merupakan inti dari pembahasan karena menyajikan berbagai bentuk rumusan masalah yang disesuaikan dengan pendekatan, tujuan, dan bidang ilmu penelitian. Dengan memahami klasifikasi ini, peneliti dapat menyusun rumusan masalah secara lebih tepat dan metodologis.
1. Rumusan Masalah Penelitian Kualitatif
Rumusan masalah dalam penelitian kualitatif memiliki karakteristik terbuka, fleksibel, dan mendalam. Rumusan masalah tidak diarahkan untuk menguji hipotesis, melainkan untuk memahami makna, proses, pengalaman, dan fenomena sosial secara holistik dari sudut pandang subjek penelitian.
Fokus utama rumusan masalah kualitatif terletak pada makna, proses, dan fenomena yang terjadi di lapangan. Oleh karena itu, rumusan masalah umumnya diawali dengan kata tanya seperti bagaimana dan mengapa.
Contoh rumusan masalah penelitian kualitatif:
-
Bagaimana pengalaman mahasiswa dalam menghadapi bimbingan skripsi secara daring?
-
Bagaimana persepsi guru terhadap penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah menengah?
-
Mengapa motivasi belajar siswa menurun pasca pembelajaran jarak jauh?
-
Bagaimana proses adaptasi UMKM terhadap digitalisasi pemasaran?
-
Bagaimana makna kerja bagi pekerja generasi Z di era gig economy?
-
Bagaimana strategi kepala sekolah dalam meningkatkan budaya literasi?
-
Bagaimana pola komunikasi antara dosen dan mahasiswa dalam bimbingan akademik?
-
Bagaimana pengalaman pasien dalam menerima pelayanan kesehatan di puskesmas?
-
Mengapa terjadi konflik internal dalam organisasi mahasiswa?
-
Bagaimana konstruksi makna kesuksesan menurut wirausaha muda?
2. Rumusan Masalah Penelitian Kuantitatif
Rumusan masalah penelitian kuantitatif bersifat terstruktur, terukur, dan spesifik. Rumusan masalah ini disusun untuk menguji hubungan antarvariabel, pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain, atau perbedaan antara dua kelompok atau lebih.
Fokus utama rumusan masalah kuantitatif adalah hubungan, pengaruh, dan perbedaan, sehingga sering menggunakan kata tanya apakah, sejauh mana, atau adakah.
Contoh rumusan masalah penelitian kuantitatif:
-
Apakah terdapat pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi akademik siswa?
-
Sejauh mana penggunaan media pembelajaran digital meningkatkan hasil belajar?
-
Apakah terdapat hubungan antara stres akademik dan tingkat kecemasan mahasiswa?
-
Apakah kepemimpinan transformasional berpengaruh terhadap kinerja karyawan?
-
Sejauh mana literasi keuangan memengaruhi perilaku menabung mahasiswa?
-
Apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa laki-laki dan perempuan?
-
Apakah kepuasan kerja berpengaruh terhadap loyalitas karyawan?
-
Sejauh mana penggunaan media sosial memengaruhi minat beli konsumen?
-
Apakah metode pembelajaran kooperatif lebih efektif dibandingkan metode ceramah?
-
Apakah self-efficacy berpengaruh terhadap kesiapan kerja lulusan perguruan tinggi?
3. Rumusan Masalah Penelitian Mix Method
Rumusan masalah penelitian metode campuran (mix method) memiliki ciri khas berupa penggabungan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dalam satu penelitian. Rumusan masalah biasanya disusun secara berurutan atau terintegrasi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif.
Integrasi data kualitatif dan kuantitatif memungkinkan peneliti tidak hanya mengetahui seberapa besar suatu pengaruh, tetapi juga mengapa dan bagaimana fenomena tersebut terjadi.
Contoh rumusan masalah penelitian mix method:
-
Sejauh mana penggunaan e-learning memengaruhi hasil belajar siswa, dan bagaimana pengalaman siswa dalam penggunaannya?
-
Apakah motivasi kerja berpengaruh terhadap kinerja guru, dan bagaimana guru memaknai motivasi tersebut?
-
Seberapa tinggi tingkat kepuasan mahasiswa terhadap layanan akademik, dan faktor apa yang memengaruhinya?
-
Apakah budaya organisasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan, dan bagaimana karyawan memaknai budaya tersebut?
-
Sejauh mana literasi digital mahasiswa, dan bagaimana mereka memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran?
-
Apakah pelatihan kerja meningkatkan produktivitas karyawan, dan bagaimana proses implementasinya?
-
Seberapa efektif program bimbingan karier, dan bagaimana persepsi peserta terhadap program tersebut?
Rumusan Masalah Berdasarkan Tujuan Penelitian
Selain berdasarkan pendekatan, rumusan masalah juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan penelitian.
1. Rumusan Masalah Deskriptif
Rumusan masalah deskriptif bertujuan untuk menggambarkan atau memaparkan suatu fenomena, kondisi, atau karakteristik tanpa membandingkan atau menghubungkan variabel.
Contoh rumusan masalah deskriptif:
-
Bagaimana tingkat motivasi belajar siswa kelas X?
-
Bagaimana pola penggunaan media sosial pada mahasiswa?
-
Bagaimana kondisi lingkungan kerja di perusahaan X?
2. Rumusan Masalah Komparatif
Rumusan masalah komparatif digunakan untuk membandingkan dua kelompok atau lebih berdasarkan variabel tertentu.
Contoh rumusan masalah komparatif:
-
Apakah terdapat perbedaan motivasi belajar antara siswa sekolah negeri dan swasta?
-
Apakah terdapat perbedaan kinerja karyawan sebelum dan sesudah pelatihan?
-
Apakah terdapat perbedaan kepuasan pelanggan antara layanan online dan offline?
3. Rumusan Masalah Asosiatif
Rumusan masalah asosiatif bertujuan untuk mengetahui hubungan atau pengaruh antarvariabel.
Contoh rumusan masalah asosiatif:
-
Apakah terdapat hubungan antara disiplin belajar dan prestasi siswa?
-
Sejauh mana stres kerja memengaruhi kinerja karyawan?
-
Apakah gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap kepuasan kerja?
Rumusan Masalah Berdasarkan Bidang Ilmu
Bagian ini memperkaya artikel dengan konteks keilmuan yang beragam.
1. Bidang Pendidikan
-
Bagaimana efektivitas metode pembelajaran berbasis proyek?
-
Apakah motivasi belajar berpengaruh terhadap hasil belajar siswa?
2. Bidang Ekonomi & Bisnis
-
Apakah strategi digital marketing berpengaruh terhadap penjualan UMKM?
-
Sejauh mana brand image memengaruhi keputusan pembelian?
3. Bidang Hukum
-
Bagaimana implementasi perlindungan hukum terhadap konsumen?
-
Sejauh mana efektivitas penegakan hukum terhadap tindak pidana tertentu?
4. Bidang Psikologi
-
Apakah kepercayaan diri berpengaruh terhadap kecemasan berbicara di depan umum?
-
Bagaimana mekanisme coping stres pada mahasiswa tingkat akhir?
5. Bidang Ilmu Sosial & Humaniora
-
Bagaimana pola interaksi sosial di masyarakat perkotaan?
-
Bagaimana konstruksi identitas budaya generasi muda?
6. Bidang Kesehatan
-
Apakah pola makan berpengaruh terhadap status gizi remaja?
-
Bagaimana persepsi pasien terhadap kualitas layanan kesehatan?
7. Bidang Teknologi & Sains
-
Sejauh mana penggunaan teknologi AI meningkatkan efisiensi kerja?
-
Apakah sistem informasi akademik berpengaruh terhadap kepuasan pengguna?

