50+ Contoh Rumusan Masalah Berbagai Bidang

Merumuskan masalah penelitian sering menjadi tahap paling menantang bagi mahasiswa maupun peneliti pemula. Banyak yang sudah memiliki topik menarik, tetapi kesulitan mengubahnya menjadi rumusan masalah yang tajam, terukur, dan sesuai kaidah ilmiah. Padahal, rumusan masalah adalah fondasi utama penelitian—jika keliru, seluruh penelitian bisa kehilangan arah.

Artikel ini menyajikan 50+ contoh rumusan masalah dari berbagai bidang ilmu yang disusun secara sistematis, mudah dipahami, dan dapat langsung dijadikan referensi dalam menyusun skripsi, tesis, maupun artikel ilmiah.

Baca juga: Tips Mendapatkan Hibah Penelitian secara Kompetitif

Apa Itu Rumusan Masalah Penelitian?

Rumusan masalah penelitian adalah inti dari sebuah penelitian ilmiah. Rumusan masalah berupa pertanyaan penelitian yang disusun secara sistematis untuk mengarahkan seluruh proses penelitian agar tetap fokus, terarah, dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dengan adanya rumusan masalah, peneliti memiliki pedoman yang jelas tentang apa yang diteliti, mengapa diteliti, dan bagaimana penelitian akan dilakukan.

Menurut Sugiyono, rumusan masalah berfungsi sebagai batasan penelitian sekaligus pemandu peneliti dalam menentukan variabel, memilih metode, mengumpulkan data, hingga melakukan analisis. Rumusan masalah membantu peneliti agar tidak keluar dari topik dan ruang lingkup yang telah ditetapkan, sehingga penelitian menjadi lebih terkontrol dan sistematis.

Sementara itu, John W. Creswell menegaskan bahwa rumusan masalah yang baik harus selaras dengan pendekatan penelitian yang digunakan, baik kualitatif, kuantitatif, maupun mix method. Dalam penelitian kualitatif, rumusan masalah biasanya menekankan pada makna, proses, dan pengalaman subjek penelitian. Sebaliknya, dalam penelitian kuantitatif, rumusan masalah lebih berfokus pada hubungan, pengaruh, atau perbedaan antarvariabel yang dapat diukur secara statistik.

Secara praktis, rumusan masalah menjadi titik awal dalam penyusunan tujuan penelitian, kerangka teori, dan instrumen penelitian. Tujuan penelitian pada dasarnya merupakan jawaban dari rumusan masalah, sedangkan metode penelitian dipilih untuk menjawab pertanyaan tersebut secara ilmiah. Oleh karena itu, kesalahan dalam merumuskan masalah dapat berdampak langsung pada ketidaktepatan metode, analisis data, hingga kesimpulan penelitian.

Dengan demikian, rumusan masalah bukan sekadar formalitas dalam penulisan skripsi atau tesis, melainkan fondasi utama yang menentukan kualitas dan arah penelitian. Rumusan masalah yang jelas, spesifik, dan relevan akan membantu peneliti menghasilkan penelitian yang lebih terarah, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Ciri Rumusan Masalah yang Baik

Agar penelitian berjalan secara efektif dan terarah, rumusan masalah harus disusun dengan cermat dan memenuhi beberapa ciri penting berikut.

1. Berasal dari Latar Belakang dan Research Gap

Rumusan masalah yang baik tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan lahir dari latar belakang penelitian yang kuat. Masalah penelitian harus merupakan hasil analisis terhadap fenomena, data, dan temuan penelitian terdahulu. Adanya research gap—baik berupa keterbatasan metode, perbedaan hasil penelitian, maupun konteks yang belum dikaji—menjadi dasar logis mengapa rumusan masalah tersebut perlu diteliti. Dengan demikian, rumusan masalah memiliki urgensi dan nilai ilmiah yang jelas.

2. Ditulis dalam Bentuk Pertanyaan

Rumusan masalah sebaiknya disajikan dalam bentuk pertanyaan penelitian. Bentuk pertanyaan membantu peneliti menentukan arah penelitian serta memudahkan dalam merumuskan tujuan penelitian. Pertanyaan penelitian juga membuat fokus kajian menjadi lebih jelas dan terarah, sehingga peneliti mengetahui secara pasti apa yang ingin dijawab melalui penelitian yang dilakukan.

3. Jelas, Spesifik, dan Dapat Diteliti

Rumusan masalah harus ditulis dengan bahasa yang jelas dan tidak menimbulkan makna ganda. Masalah yang terlalu umum atau ambigu akan menyulitkan peneliti dalam menentukan metode, teknik pengumpulan data, dan analisis. Selain itu, rumusan masalah harus dapat diteliti secara ilmiah, artinya dapat dijawab melalui data empiris, baik kualitatif maupun kuantitatif, bukan bersifat normatif atau opini semata.

4. Sesuai dengan Pendekatan Penelitian

Rumusan masalah yang baik harus disesuaikan dengan pendekatan penelitian yang digunakan.

  • Dalam penelitian kualitatif, rumusan masalah biasanya menekankan pada makna, proses, dan pengalaman subjek penelitian.

  • Dalam penelitian kuantitatif, rumusan masalah fokus pada hubungan, pengaruh, atau perbedaan antarvariabel yang dapat diukur.

  • Pada penelitian mix method, rumusan masalah menggabungkan pertanyaan kuantitatif dan kualitatif secara terintegrasi.

Kesesuaian ini penting agar metode penelitian benar-benar mampu menjawab pertanyaan yang dirumuskan.

5. Konsisten dengan Tujuan dan Metode Penelitian

Rumusan masalah harus memiliki keterkaitan yang kuat dengan tujuan dan metode penelitian. Tujuan penelitian pada dasarnya merupakan jawaban dari rumusan masalah, sedangkan metode penelitian adalah cara untuk menjawabnya. Jika rumusan masalah tidak selaras dengan tujuan dan metode, penelitian akan kehilangan konsistensi dan sulit dipertanggungjawabkan secara akademik.

Dengan memperhatikan ciri-ciri tersebut, rumusan masalah tidak hanya menjadi bagian formal dalam penulisan penelitian, tetapi benar-benar berfungsi sebagai fondasi yang mengarahkan seluruh proses penelitian secara sistematis dan ilmiah.

akademia

Contoh Rumusan Masalah Berbagai Bidang

Contoh Rumusan Masalah Bidang Pendidikan

  1. Bagaimana pengaruh metode pembelajaran berbasis proyek terhadap hasil belajar siswa?

  2. Seberapa besar hubungan motivasi belajar dengan prestasi akademik siswa SMA?

  3. Bagaimana pengalaman guru dalam menerapkan Kurikulum Merdeka?

  4. Apakah penggunaan media digital meningkatkan minat belajar siswa?

  5. Bagaimana strategi sekolah dalam meningkatkan literasi membaca siswa?

Contoh Rumusan Masalah Bidang Ilmu Sosial

  1. Bagaimana bentuk interaksi sosial masyarakat di era digital?

  2. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap program bantuan sosial pemerintah?

  3. Faktor apa saja yang memengaruhi partisipasi masyarakat dalam kegiatan sosial?

  4. Bagaimana dampak urbanisasi terhadap pola kehidupan masyarakat desa?

  5. Bagaimana peran komunitas lokal dalam menjaga kohesi sosial?

Contoh Rumusan Masalah Bidang Ekonomi

  1. Apakah tingkat pendapatan berpengaruh terhadap perilaku konsumsi masyarakat?

  2. Seberapa besar pengaruh literasi keuangan terhadap keputusan investasi mahasiswa?

  3. Bagaimana dampak inflasi terhadap daya beli rumah tangga?

  4. Apakah UMKM berbasis digital lebih tahan terhadap krisis ekonomi?

  5. Faktor apa yang memengaruhi minat berwirausaha generasi muda?

Contoh Rumusan Masalah Bidang Manajemen dan Bisnis

  1. Bagaimana pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap kinerja karyawan?

  2. Seberapa besar pengaruh budaya organisasi terhadap loyalitas karyawan?

  3. Bagaimana strategi pemasaran digital meningkatkan penjualan produk lokal?

  4. Apakah kepuasan pelanggan memengaruhi loyalitas merek?

  5. Faktor apa yang memengaruhi keputusan pembelian konsumen online?

Contoh Rumusan Masalah Bidang Kesehatan

  1. Apakah terdapat hubungan antara pola makan dan tingkat kebugaran remaja?

  2. Seberapa besar pengaruh aktivitas fisik terhadap tekanan darah lansia?

  3. Bagaimana persepsi pasien terhadap kualitas pelayanan rumah sakit?

  4. Faktor apa yang memengaruhi kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan?

  5. Bagaimana peran edukasi kesehatan dalam pencegahan penyakit tidak menular?

Contoh Rumusan Masalah Bidang Psikologi

  1. Apakah stres akademik berpengaruh terhadap motivasi belajar mahasiswa?

  2. Seberapa besar hubungan self-esteem dengan kepercayaan diri remaja?

  3. Bagaimana mekanisme coping mahasiswa dalam menghadapi tekanan akademik?

  4. Faktor psikologis apa yang memengaruhi kecanduan media sosial?

  5. Bagaimana peran dukungan sosial terhadap kesehatan mental mahasiswa?

Contoh Rumusan Masalah Bidang Komunikasi

  1. Bagaimana pengaruh media sosial terhadap pembentukan opini publik?

  2. Seberapa besar pengaruh konten digital terhadap minat beli konsumen?

  3. Bagaimana strategi komunikasi krisis yang dilakukan organisasi?

  4. Bagaimana persepsi audiens terhadap iklan berbasis influencer?

  5. Faktor apa yang memengaruhi efektivitas komunikasi pemasaran digital?

Contoh Rumusan Masalah Bidang Hukum

  1. Bagaimana efektivitas penerapan sanksi hukum terhadap pelanggaran lalu lintas?

  2. Faktor apa yang menghambat penegakan hukum di daerah tertentu?

  3. Bagaimana perlindungan hukum terhadap konsumen dalam transaksi online?

  4. Apakah regulasi perlindungan data pribadi telah diterapkan secara optimal?

  5. Bagaimana peran aparat penegak hukum dalam mencegah tindak pidana korupsi?

Contoh Rumusan Masalah Bidang Budaya dan Humaniora

  1. Bagaimana makna tradisi lokal bagi generasi muda?

  2. Bagaimana proses pelestarian budaya daerah di tengah globalisasi?

  3. Faktor apa yang menyebabkan pergeseran nilai budaya masyarakat?

  4. Bagaimana representasi budaya lokal dalam media digital?

  5. Bagaimana peran seni tradisional dalam membangun identitas budaya?

Contoh Rumusan Masalah Penelitian Mix Method

  1. Seberapa besar pengaruh pembelajaran digital terhadap hasil belajar siswa, dan bagaimana pengalaman siswa menggunakannya?

  2. Apakah pelatihan kewirausahaan berpengaruh terhadap minat usaha mahasiswa, dan bagaimana persepsi mereka terhadap program tersebut?

  3. Seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan, dan bagaimana pengalaman karyawan bekerja di bawah pimpinan tersebut?

  4. Apakah penggunaan media sosial meningkatkan partisipasi politik pemuda, dan bagaimana pandangan mereka terhadap konten politik digital?

  5. Seberapa besar pengaruh layanan online terhadap kepuasan pelanggan, dan bagaimana pengalaman pelanggan menggunakan layanan tersebut?

Kesalahan Umum dalam Menyusun Rumusan Masalah

Beberapa kesalahan yang sering terjadi antara lain:

  • Rumusan masalah terlalu umum

  • Tidak sesuai dengan latar belakang penelitian

  • Tidak dapat diteliti secara empiris

  • Tidak konsisten dengan tujuan dan metode penelitian

Baca juga: Cara Melihat IPK UT dengan Mudah dan Resmi Melalui Sistem Akademik

Penutup

Rumusan masalah bukan sekadar formalitas, tetapi penentu kualitas penelitian. Dengan melihat berbagai contoh rumusan masalah dari beragam bidang ilmu, peneliti diharapkan mampu memahami pola penyusunan yang benar dan aplikatif.

Gunakan contoh-contoh di atas sebagai referensi, lalu sesuaikan dengan konteks, data, dan research gap penelitian Anda. Dengan rumusan masalah yang tepat, penelitian akan berjalan lebih terarah, sistematis, dan bernilai ilmiah tinggi.

Namun, jika Anda memiliki permasalahan serius maupun keterbatasan dalam mengerjakan latar belakang skripsi, Akademia bisa membantu Anda untuk menyelesaikan step by step skripsi yang terasa menyulitkan. Konsultasikan semua permasalahan skripsi Anda sekarang di Akademia!

SOP Usaha Service Drone

Contoh-Contoh Rumusan Masalah Penelitian Berbagai Jenis dan Bidang

Banyak mahasiswa mengalami kesulitan saat merumuskan masalah penelitian, meskipun telah memiliki topik dan judul yang jelas. Kebingungan ini biasanya muncul karena belum mampu mengubah fenomena penelitian menjadi pertanyaan yang spesifik, terarah, dan dapat diteliti secara ilmiah. Rumusan masalah yang tidak tepat sering berdampak pada penelitian yang melebar, metode yang tidak sesuai, hingga analisis data yang kurang fokus. Oleh karena itu, artikel ini disusun untuk membantu pembaca memahami cara merumuskan masalah penelitian dengan benar melalui penjelasan yang mudah dipahami dan contoh-contoh konkret, sehingga dapat menjadi panduan praktis dalam menyusun penelitian yang lebih terarah dan berkualitas.

Pengertian Rumusan Masalah Penelitian

Rumusan masalah penelitian merupakan pernyataan atau pertanyaan yang secara jelas menggambarkan fokus utama penelitian. Menurut Sugiyono, rumusan masalah adalah pertanyaan penelitian yang didasarkan pada kesenjangan antara kondisi ideal dan kondisi nyata yang ditemukan di lapangan. Sementara itu, Creswell menyatakan bahwa rumusan masalah berfungsi sebagai inti dari penelitian karena menentukan arah pengumpulan data, analisis, dan interpretasi hasil. Dengan kata lain, rumusan masalah menjadi titik awal yang mengarahkan seluruh proses penelitian ilmiah.

Dalam penelitian ilmiah, rumusan masalah memiliki peran yang sangat penting. Rumusan masalah berfungsi sebagai pedoman dalam menentukan tujuan penelitian, memilih metode yang sesuai, menetapkan variabel atau fokus kajian, serta menyusun teknik analisis data. Tanpa rumusan masalah yang jelas, penelitian cenderung kehilangan arah, sulit dibatasi ruang lingkupnya, dan berpotensi menghasilkan temuan yang kurang relevan.

Adapun ciri rumusan masalah yang baik dan benar antara lain ditulis secara jelas dan spesifik, relevan dengan latar belakang penelitian, serta dapat diteliti secara ilmiah. Rumusan masalah juga sebaiknya disusun dalam bentuk pertanyaan, menggunakan bahasa yang lugas, dan sesuai dengan pendekatan penelitian yang digunakan. Dengan memenuhi ciri-ciri tersebut, rumusan masalah akan membantu peneliti menghasilkan penelitian yang sistematis, fokus, dan berkualitas.

Pentingnya Rumusan Masalah dalam Penelitian

Rumusan masalah memiliki peran otoritatif sebagai penentu arah dan fokus penelitian. Rumusan masalah yang jelas akan membatasi ruang lingkup kajian sehingga penelitian tidak melebar ke luar topik yang telah ditetapkan. Dengan adanya rumusan masalah, peneliti dapat menjaga konsistensi pembahasan sejak tahap perencanaan hingga penarikan kesimpulan. Inilah sebabnya rumusan masalah sering disebut sebagai “kompas” dalam penelitian ilmiah.

Selain itu, rumusan masalah memiliki hubungan yang sangat erat dengan tujuan penelitian, metode yang digunakan, serta teknik analisis data. Tujuan penelitian pada dasarnya merupakan jawaban yang ingin dicapai dari rumusan masalah, sedangkan metode penelitian dipilih untuk menjawab pertanyaan tersebut secara sistematis. Demikian pula, analisis data disusun berdasarkan jenis dan bentuk rumusan masalah, sehingga ketiganya harus saling selaras agar penelitian berjalan secara logis dan terstruktur.

Para ahli metodologi penelitian menegaskan urgensi rumusan masalah dalam penelitian ilmiah. Kerlinger menyatakan bahwa penelitian tanpa rumusan masalah yang jelas akan sulit menghasilkan temuan yang bermakna. Senada dengan itu, Creswell menekankan bahwa rumusan masalah merupakan inti dari desain penelitian karena memengaruhi seluruh keputusan metodologis. Pandangan para ahli ini menegaskan bahwa kualitas penelitian sangat ditentukan oleh ketepatan dan kejelasan rumusan masalah yang disusun sejak awal.

Prinsip Menyusun Rumusan Masalah yang Baik

Agar rumusan masalah tidak hanya formalitas, tetapi benar-benar kuat secara akademik, berikut prinsip-prinsip penting yang perlu diperhatikan:

1. Berasal dari Latar Belakang dan Research Gap

Rumusan masalah harus lahir secara logis dari latar belakang penelitian. Artinya, masalah yang dirumuskan merupakan jawaban atas fenomena, data, dan research gap yang telah dipaparkan sebelumnya. Jika latar belakang menjelaskan “mengapa penelitian perlu dilakukan”, maka rumusan masalah menjawab “apa yang perlu diteliti”.

2. Ditulis dalam Bentuk Pertanyaan Penelitian

Rumusan masalah sebaiknya disusun dalam bentuk pertanyaan agar fokus penelitian menjadi jelas. Bentuk pertanyaan membantu peneliti menentukan arah pengumpulan data dan analisis. Pertanyaan penelitian juga memudahkan pembaca memahami tujuan utama penelitian yang akan dilakukan.

3. Jelas, Spesifik, dan Terukur

Rumusan masalah yang baik tidak bersifat umum atau ambigu. Masalah harus dirumuskan secara jelas, menyebutkan fokus kajian, serta dapat diukur atau dianalisis secara ilmiah. Rumusan yang terlalu luas akan menyulitkan peneliti dalam menentukan metode dan membatasi ruang lingkup penelitian.

4. Sesuai dengan Pendekatan Penelitian

Rumusan masalah harus disesuaikan dengan pendekatan penelitian yang digunakan.

  • Penelitian kualitatif menekankan pada makna, proses, dan pengalaman.

  • Penelitian kuantitatif fokus pada hubungan, pengaruh, atau perbedaan antarvariabel.

  • Mix method mengombinasikan keduanya secara terintegrasi.

Kesesuaian antara rumusan masalah dan pendekatan penelitian akan membuat penelitian lebih konsisten, sistematis, dan mudah dipertanggungjawabkan secara akademik.

Contoh-Contoh Rumusan Masalah Penelitian Berdasarkan Jenis Penelitian

Agar lebih mudah dipahami dan diaplikasikan, berikut contoh rumusan masalah penelitian yang disusun berdasarkan jenis pendekatan penelitian. Contoh-contoh ini disajikan berdasarkan pengalaman umum mahasiswa dan kaidah metodologi penelitian yang berlaku.

Keterangan:

  • Rumusan Masalah Penelitian Kualitatif: Berfokus pada makna, proses, dan pengalaman subjek penelitian. Rumusan masalah kualitatif biasanya menggunakan kata tanya seperti bagaimana dan mengapa, serta tidak menekankan pengukuran angka.
  • Rumusan Masalah Penelitian Kuantitatif: Penelitian kuantitatif menekankan pada hubungan, pengaruh, atau perbedaan antarvariabel yang dapat diukur secara statistik. Rumusan masalah biasanya menggunakan kata tanya seperti apakah, seberapa besar, atau adakah pengaruh.
  • Rumusan Masalah Penelitian Mix Methode: Penelitian mix method mengombinasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. Rumusan masalah biasanya terdiri dari pertanyaan kuantitatif yang diikuti pertanyaan kualitatif sebagai pendalaman.
contoh rumusan masalah penelitian

Contoh Rumusan Masalah Berdasarkan Bidang Ilmu

Berikut contoh rumusan masalah penelitian berdasarkan bidang ilmu yang sering digunakan dalam penelitian akademik. Contoh-contoh ini disusun sesuai kaidah metodologi penelitian dan dapat dijadikan referensi dalam menyusun skripsi, tesis, maupun penelitian ilmiah lainnya.

Bidang Pendidikan

  • Bagaimana penerapan model pembelajaran berbasis proyek dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa?

  • Apakah terdapat pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa sekolah menengah?

  • Bagaimana peran guru dalam membentuk karakter disiplin peserta didik di lingkungan sekolah?

Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora

  • Bagaimana persepsi masyarakat terhadap perubahan sosial akibat perkembangan teknologi digital?

  • Bagaimana dinamika interaksi sosial antarindividu dalam komunitas multikultural?

  • Apakah faktor sosial budaya berpengaruh terhadap pola partisipasi masyarakat dalam kegiatan sosial?

Bidang Ekonomi dan Bisnis

  • Apakah terdapat pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan?

  • Seberapa besar pengaruh strategi pemasaran digital terhadap keputusan pembelian konsumen?

  • Bagaimana hubungan antara literasi keuangan dan perilaku pengelolaan keuangan pelaku UMKM?

Bidang Kesehatan

  • Apakah terdapat hubungan antara pola hidup sehat dan tingkat kebugaran mahasiswa?

  • Seberapa besar pengaruh aktivitas fisik terhadap tekanan darah pada lansia?

  • Bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat tentang pencegahan penyakit tidak menular?

Bidang Komunikasi

  • Bagaimana pengaruh media sosial terhadap pola komunikasi remaja?

  • Seberapa besar peran komunikasi organisasi dalam meningkatkan kinerja karyawan?

  • Bagaimana strategi komunikasi publik yang digunakan dalam membangun citra lembaga?

Contoh-contoh rumusan masalah di atas menunjukkan bahwa setiap bidang ilmu memiliki karakteristik kajian yang berbeda, sehingga perumusan masalah perlu disesuaikan dengan konteks dan pendekatan keilmuan yang digunakan.

Kesalahan Umum dalam Merumuskan Masalah Penelitian

Contoh Rumusan Masalah Penelitian

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah rumusan masalah yang terlalu umum. Rumusan yang terlalu luas membuat penelitian kehilangan fokus dan menyulitkan peneliti dalam menentukan batasan kajian, metode, serta analisis data. Akibatnya, penelitian menjadi tidak mendalam dan sulit menghasilkan temuan yang bermakna.

Kesalahan berikutnya adalah rumusan masalah yang tidak sesuai dengan latar belakang penelitian. Kondisi ini biasanya terjadi ketika rumusan masalah tidak muncul secara logis dari fenomena, data, atau research gap yang telah dipaparkan sebelumnya. Ketidaksesuaian ini dapat menurunkan kepercayaan pembaca terhadap keutuhan dan konsistensi penelitian.

Selain itu, rumusan masalah yang tidak dapat diteliti secara ilmiah juga menjadi kelemahan serius. Rumusan yang bersifat normatif, terlalu abstrak, atau mengandung penilaian subjektif akan sulit dijawab melalui metode penelitian. Hal ini membuat penelitian tidak dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Kesalahan lain yang kerap ditemukan adalah rumusan masalah yang tidak konsisten dengan tujuan penelitian. Padahal, tujuan penelitian seharusnya merupakan jawaban dari rumusan masalah yang diajukan. Ketidakkonsistenan ini dapat mengganggu alur penelitian dan mengurangi kualitas hasil penelitian secara keseluruhan.

Tips Agar Rumusan Masalah Mudah Disetujui Dosen Pembimbing

Banyak mahasiswa mengalami revisi berulang bukan karena topiknya salah, tetapi karena rumusan masalahnya belum tepat. Padahal, dosen pembimbing umumnya lebih mudah menyetujui rumusan masalah yang sejak awal jelas arah, logis, dan realistis. Berikut beberapa tips praktis yang terbukti membantu.

1. Konsultasi Sejak Tahap Awal

Konsultasi dini merupakan langkah strategis agar rumusan masalah tidak keluar dari jalur penelitian. Dengan berdiskusi sejak awal, mahasiswa dapat menghindari kesalahan mendasar yang sering berujung pada revisi panjang.

Manfaat konsultasi awal:

  • Mengetahui kelayakan topik penelitian

  • Mendapat arahan fokus masalah yang tepat

  • Menyesuaikan penelitian dengan bidang keilmuan dosen pembimbing

  • Mengurangi risiko revisi besar di tahap selanjutnya

2. Gunakan Referensi Penelitian Terdahulu

Rumusan masalah yang baik hampir selalu lahir dari bacaan yang cukup. Dengan menjadikan jurnal dan skripsi terdahulu sebagai pijakan, mahasiswa dapat melihat pola penyusunan rumusan masalah yang benar secara akademik.

Referensi membantu mahasiswa untuk:

  • Menemukan research gap yang jelas

  • Menyusun rumusan masalah yang logis dan ilmiah

  • Menunjukkan bahwa penelitian tidak mengulang kajian sebelumnya

Rumusan masalah yang berbasis literatur biasanya dinilai lebih kuat dan meyakinkan oleh dosen pembimbing.

3. Uji Konsistensi dengan Judul dan Tujuan

Salah satu indikator utama rumusan masalah yang baik adalah keselarasan. Setiap rumusan masalah seharusnya:

  • Mewakili judul penelitian

  • Dapat dijawab melalui tujuan penelitian

  • Menjadi dasar pemilihan metode dan analisis data

Jika satu pertanyaan penelitian tidak terhubung dengan judul atau tujuan, maka rumusan tersebut perlu ditinjau ulang.

4. Sesuaikan dengan Kemampuan dan Ketersediaan Data

Rumusan masalah yang terlalu ambisius sering kali justru menjadi penghambat penelitian. Dosen pembimbing cenderung menyetujui rumusan masalah yang realistis dan terukur.

Pastikan rumusan masalah:

  • Sesuai dengan waktu dan kemampuan peneliti

  • Didukung oleh data yang tersedia atau mudah diakses

  • Tidak terlalu kompleks untuk tingkat penelitian (S1, S2, atau S3)

Rumusan masalah yang realistis menunjukkan bahwa mahasiswa memahami batasan penelitian dan siap menjalankannya secara optimal.

Penutup

Contoh-contoh rumusan masalah yang tepat dan sesuai bidang ilmu dapat membantu pembaca memahami bagaimana sebuah masalah penelitian seharusnya dirumuskan. Melalui contoh konkret, pembaca tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu melihat penerapannya secara langsung dalam konteks penelitian yang berbeda-beda.

Dengan demikian, pembaca diharapkan mampu menyusun rumusan masalah secara kritis dan sistematis, berangkat dari latar belakang dan research gap yang jelas. Sikap cermat dan terencana dalam merumuskan masalah akan membantu menghasilkan penelitian yang lebih terarah, berkualitas, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Namun, jika Anda memiliki permasalahan serius maupun keterbatasan dalam menentukan rumusan masalah, judul, analisis data, dan lain sebagainya, Akademia bisa membantu Anda menyelesaikan step by step skripsi yang terasa menyulitkan. Konsultasikan semua permasalahan skripsi Anda sekarang di Akademia!

SOP Usaha Service Drone

Cara Menangani Gap yang Terjadi dalam Penelitian

Research gap atau kesenjangan penelitian adalah celah pengetahuan yang muncul karena penelitian sebelumnya belum membahas suatu aspek secara tuntas. Kesenjangan ini bisa muncul dari perbedaan hasil penelitian, keterbatasan metode, perbedaan objek atau lokasi, hingga perubahan konteks sosial dan waktu.

Menurut John W. Creswell, research gap penting karena menjadi dasar argumen mengapa sebuah penelitian perlu dilakukan. Tanpa gap yang jelas, penelitian berisiko hanya mengulang studi lama tanpa kontribusi baru. Sementara itu, Ridley menjelaskan bahwa menemukan dan menangani research gap dengan tepat akan membantu peneliti membangun posisi akademik yang kuat dan relevan.

cara menangani gap

Menangani gap penelitian bukan berarti harus menemukan masalah yang “belum pernah diteliti sama sekali”, tetapi bisa juga dengan:

  • Mengembangkan variabel yang belum dikaji
  • Menggunakan metode berbeda
  • Menguji teori lama pada konteks baru
  • Memperdalam hasil penelitian sebelumnya
  • Dengan kata lain, research gap adalah peluang, bukan hambatan.

Contoh Kasus Gap Penelitian

Misalnya, terdapat banyak penelitian yang membahas pengaruh metode pembelajaran terhadap motivasi belajar siswa SMA. Namun, sebagian besar penelitian tersebut:

  • Menggunakan metode kuantitatif
  • Berfokus pada sekolah di perkotaan
  • Tidak membahas pengalaman subjektif siswa
  • Dari kondisi ini, muncul research gap berupa:
  • Kurangnya penelitian kualitatif
  • Minimnya kajian pada sekolah di daerah rural
  • Belum tergalinya perspektif siswa secara mendalam

Peneliti dapat menangani gap tersebut dengan melakukan penelitian kualitatif yang mengeksplorasi pengalaman belajar siswa di sekolah pedesaan. Meskipun topiknya serupa, pendekatan dan fokusnya berbeda, sehingga tetap memiliki kebaruan.

akademia

Tips Menangani Research Gap

Agar research gap dapat ditangani secara tepat, berikut beberapa strategi yang disarankan para ahli:

  1. Lakukan kajian pustaka secara kritis
    Menurut Booth, Colomb, & Williams, membaca jurnal bukan hanya untuk merangkum, tetapi untuk menemukan keterbatasan penelitian sebelumnya.

  2. Identifikasi pola dan perbedaan hasil penelitian
    Perbedaan temuan antarpenelitian sering kali menjadi sumber research gap yang kuat.

  3. Perhatikan konteks waktu dan lokasi
    Penelitian lama mungkin sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini, sehingga membuka peluang penelitian baru.

  4. Sesuaikan dengan kapasitas penelitian
    Gap yang dipilih harus realistis, sesuai dengan waktu, data, dan kemampuan peneliti, terutama untuk skripsi S1.

  5. Kaitkan gap dengan kontribusi penelitian
    Seperti dijelaskan Babbie, penelitian yang baik selalu menjawab pertanyaan: apa kontribusi ilmiahnya?

Langkah Praktis Menangani Gap Penelitian

Agar tidak bingung saat menghadapi research gap, berikut langkah praktis yang bisa langsung diterapkan untuk mempermudah Anda dalam memperbaiki gap yang terjadi.

cara menangani gap

Kesimpulan

Menangani gap dalam penelitian adalah keterampilan akademik yang dapat dilatih. Para ahli sepakat bahwa research gap yang jelas akan memperkuat urgensi, kebaruan, dan kontribusi penelitian. Dengan memahami jenis gap, menggunakan strategi yang tepat, dan menerapkannya secara sistematis, peneliti—termasuk mahasiswa—dapat menghasilkan penelitian yang lebih berkualitas dan mudah diterima secara akademik.

Namun, jika Anda memiliki permasalahan serius mengenai gap penelitian dalam skripsi Anda, Akademia bisa membantu untuk menyelesaikan step by step skripsi yang terasa menyulitkan. Konsultasikan semua permasalahan skripsi Anda sekarang di Akademia!

SOP Usaha Service Drone

Tips Menulis Latar Belakang Skripsi yang Jelas, Logis, dan Mudah Dipahami

Seperti yang kita ketahui, latar belakang merupakan bagian awal skripsi yang memiliki peran sangat penting karena menjadi fondasi dari keseluruhan penelitian.

Pada bagian inilah penulis menjelaskan alasan ilmiah mengapa suatu topik layak diteliti, apa masalah yang terjadi, serta urgensi penelitian tersebut. Maka tidak heran jika menulis bagian ini bisa dikatakan sangat krusial bagi penulis jika ingin pembaca memahami arah penelitian sejak awal.

Namun, kenyataannya tidak sedikit mahasiswa yang mengalami kesulitan saat menulis latar belakang skripsi. Kesalahan yang sering terjadi antara lain penulisan yang terlalu umum, bertele-tele, tidak didukung data, hingga tidak selaras dengan judul dan rumusan masalah. Akibatnya, latar belakang menjadi lemah secara akademik dan sering kali perlu direvisi berulang kali oleh dosen pembimbing. Jangan-jangan, Anda salah satunya, ya?

Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk memberikan panduan dan tips praktis dalam menulis latar belakang skripsi yang jelas, runtut, dan sesuai kaidah ilmiah. Dengan memahami struktur dan prinsip penulisan yang tepat, diharapkan pembaca dapat menyusun latar belakang skripsi secara lebih efektif, mudah dipahami, serta meningkatkan peluang skripsi disetujui oleh dosen pembimbing.

Baca juga: Konflik dalam Bimbingan Skripsi yang Hampir Bikin Mahasiswa Menyerah

Kenali Apa Itu Latar Belakang Skripsi

Latar belakang skripsi merupakan bagian pendahuluan yang berisi penjelasan mengenai alasan akademik dan empiris mengapa suatu penelitian perlu dilakukan. Secara umum, latar belakang penelitian memaparkan kondisi ideal yang diharapkan, kondisi nyata yang terjadi di lapangan, serta kesenjangan di antara keduanya. Sederhananya:

“Latar belakang adalah deskripsi konteks penelitian yang menjelaskan mengapa topik tersebut penting untuk dikaji, baik dari segi teoritis maupun praktis (Moleong (2017).”

Dalam keseluruhan struktur skripsi, latar belakang memiliki fungsi sebagai pengantar utama yang mengarahkan pembaca pada fokus penelitian. Bagian ini berperan menjelaskan urgensi masalah, menunjukkan relevansi topik dengan bidang keilmuan, serta memberikan gambaran awal mengenai ruang lingkup penelitian. Latar belakang yang kuat akan memperjelas arah penelitian dan menjadi pijakan bagi penyusunan bab-bab selanjutnya.
Selain itu, latar belakang skripsi memiliki hubungan yang sangat erat dengan rumusan masalah. Masalah penelitian yang dirumuskan seharusnya muncul secara logis dari uraian latar belakang. Artinya, setiap rumusan masalah harus dapat ditelusuri asal-usulnya dari fenomena, data, atau permasalahan yang telah dijelaskan sebelumnya. Dengan keterkaitan yang jelas antara latar belakang dan rumusan masalah, skripsi akan terlihat lebih sistematis, logis, dan mudah dipahami.

Fungsi Latar Belakang Skripsi

Latar belakang skripsi berfungsi untuk menjelaskan konteks dan urgensi penelitian yang akan dilakukan. Pada bagian ini, penulis memaparkan kondisi atau fenomena yang melatarbelakangi munculnya topik penelitian, baik berdasarkan fakta lapangan, data statistik, maupun temuan penelitian sebelumnya. Penjelasan tersebut bertujuan menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan bukan sekadar pilihan pribadi, tetapi memiliki nilai penting dan relevansi akademik.

Selain itu, latar belakang juga berfungsi untuk menunjukkan adanya masalah penelitian. Melalui uraian yang sistematis, penulis mengungkap ketidaksesuaian antara kondisi ideal yang diharapkan dengan kondisi nyata yang terjadi. Dari sinilah permasalahan penelitian mulai terlihat secara jelas, sehingga pembaca dapat memahami apa yang menjadi inti persoalan dan mengapa masalah tersebut perlu dikaji lebih lanjut.

Fungsi lain yang tidak kalah penting adalah mengarahkan pembaca pada fokus penelitian. Latar belakang yang disusun dengan baik akan membawa pembaca secara bertahap dari gambaran umum menuju masalah yang lebih spesifik. Dengan demikian, pembaca dapat mengikuti alur pemikiran penulis hingga sampai pada fokus penelitian yang akan dibahas, sehingga skripsi terasa lebih runtut, logis, dan terarah.

Unsur Wajib dalam Latar Belakang Skripsi

tips menulis latar belakang skripsi

Salah satu unsur penting dalam latar belakang skripsi adalah penjelasan mengenai fenomena atau perbandingan antara kondisi ideal dan kondisi nyata. Penulis perlu menggambarkan bagaimana seharusnya suatu kondisi berlangsung menurut teori, kebijakan, atau harapan akademik, lalu membandingkannya dengan realitas yang terjadi di lapangan. Perbedaan antara keduanya menjadi dasar logis munculnya masalah penelitian.

Unsur berikutnya adalah penggunaan data pendukung. Latar belakang yang kuat tidak hanya berisi opini, tetapi didukung oleh data yang relevan, seperti statistik, hasil penelitian terdahulu, maupun fakta lapangan. Data ini berfungsi memperkuat argumen penulis bahwa masalah yang diangkat benar-benar nyata, penting, dan layak untuk diteliti secara ilmiah.

Selanjutnya, latar belakang harus memuat identifikasi masalah yang jelas. Setelah memaparkan fenomena dan data pendukung, penulis perlu menegaskan masalah utama yang akan dikaji. Identifikasi masalah ini menjadi jembatan antara uraian latar belakang dengan rumusan masalah, sehingga alur penulisan tetap sistematis dan terarah.

Unsur penting lainnya adalah kesenjangan penelitian atau research gap. Penulis perlu menunjukkan bahwa masih terdapat celah dalam penelitian sebelumnya, baik dari sisi objek, metode, variabel, maupun konteks penelitian. Adanya research gap menegaskan kebaruan dan kontribusi penelitian yang akan dilakukan.

Terakhir, latar belakang skripsi perlu memuat alasan pemilihan topik penelitian. Alasan ini dapat didasarkan pada urgensi masalah, relevansi dengan bidang keilmuan, maupun manfaat praktis dan teoretis dari penelitian tersebut. Dengan menjelaskan alasan pemilihan topik secara jelas, latar belakang akan terasa lebih meyakinkan dan mampu menunjukkan nilai penting dari penelitian yang dilakukan.

Tips Menulis Latar Belakang Skripsi yang Baik

Salah satu tips utama dalam menulis latar belakang skripsi adalah memulai dari gambaran umum ke pembahasan yang lebih khusus. Penulis sebaiknya membuka latar belakang dengan konteks luas sesuai bidang keilmuan, kemudian secara bertahap mengerucutkan pembahasan hingga pada masalah spesifik yang akan diteliti. Pola ini membantu pembaca memahami alur pemikiran penulis dengan lebih mudah.

Selain itu, gunakan data yang relevan dan terbaru untuk memperkuat uraian latar belakang. Data dapat berupa statistik resmi, hasil penelitian terdahulu, maupun fakta empiris di lapangan. Penggunaan data yang valid dan mutakhir akan meningkatkan kredibilitas tulisan serta menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Penulisan latar belakang juga harus disusun secara runtut dan logis. Setiap paragraf sebaiknya saling berkaitan dan mengalir secara sistematis, mulai dari pemaparan fenomena hingga penegasan masalah penelitian. Hindari loncatan ide yang terlalu jauh agar pembaca tidak kehilangan arah dalam memahami isi latar belakang.

Tips berikutnya adalah menghindari opini tanpa dasar ilmiah. Setiap pernyataan yang bersifat klaim sebaiknya didukung oleh teori, data, atau rujukan yang jelas. Hal ini penting agar latar belakang tidak terkesan subjektif dan tetap memenuhi kaidah penulisan akademik.

Terakhir, gunakan bahasa akademik yang jelas dan efektif. Pilih kata-kata yang formal, lugas, dan mudah dipahami, serta hindari penggunaan bahasa sehari-hari atau kalimat yang terlalu panjang dan berbelit. Bahasa yang tepat akan membuat latar belakang skripsi terlihat lebih profesional dan enak dibaca.

akademia

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Latar Belakang Skripsi

Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi dalam penulisan latar belakang skripsi adalah pembahasan yang terlalu panjang dan bertele-tele. Banyak mahasiswa menuliskan informasi yang kurang relevan sehingga inti permasalahan menjadi tidak jelas. Latar belakang yang baik seharusnya ringkas, padat, dan langsung mengarah pada masalah penelitian tanpa banyak penyimpangan.

Kesalahan berikutnya adalah latar belakang yang tidak fokus pada masalah penelitian. Uraian yang terlalu umum dan tidak mengerucut membuat pembaca kesulitan memahami apa sebenarnya masalah utama yang ingin diteliti. Akibatnya, hubungan antara latar belakang dengan rumusan masalah menjadi lemah dan kurang logis.

Selain itu, minimnya data dan referensi juga menjadi kelemahan umum dalam latar belakang skripsi. Pernyataan yang tidak didukung oleh data statistik, penelitian terdahulu, atau sumber tepercaya akan terkesan sebagai opini pribadi. Hal ini dapat menurunkan kualitas akademik skripsi dan sering menjadi alasan dosen meminta revisi.

Kesalahan lain yang tidak kalah fatal adalah latar belakang yang tidak sesuai dengan judul penelitian. Ketidaksinkronan ini biasanya terjadi karena penulis kurang cermat dalam menyusun alur pembahasan. Latar belakang seharusnya secara konsisten mengarah dan mendukung judul skripsi agar penelitian terlihat fokus, sistematis, dan memiliki arah yang jelas.

Tips Agar Latar Belakang Mudah Disetujui Dosen Pembimbing

Agar latar belakang skripsi mudah disetujui dosen pembimbing, langkah pertama yang perlu diperhatikan adalah menyesuaikannya dengan bidang keilmuan. Pastikan topik, istilah, dan sudut pandang yang digunakan relevan dengan disiplin ilmu yang ditekuni. Latar belakang yang selaras dengan bidang keilmuan akan menunjukkan bahwa penelitian memiliki dasar teoritis yang jelas dan tidak keluar dari konteks akademik program studi.

Selain itu, penting untuk menjaga konsistensi antara latar belakang dengan judul dan rumusan masalah. Uraian dalam latar belakang harus mengarah langsung pada judul penelitian dan secara logis melahirkan rumusan masalah. Ketika ketiga komponen ini saling mendukung, dosen pembimbing akan lebih mudah melihat arah penelitian dan menilai bahwa skripsi disusun secara sistematis.

Tips berikutnya adalah mengikuti pedoman penulisan kampus secara cermat. Setiap perguruan tinggi umumnya memiliki aturan khusus terkait sistematika, gaya bahasa, dan tata cara penulisan skripsi. Dengan mematuhi pedoman tersebut sejak awal, mahasiswa dapat meminimalkan revisi teknis dan menunjukkan sikap akademik yang baik di hadapan dosen pembimbing.

Baca juga: Tips Lulus Ujian UT dengan Nilai Memuaskan

Penutup

Latar belakang skripsi merupakan bagian krusial yang menentukan arah dan kualitas keseluruhan penelitian karena berfungsi menjelaskan konteks, urgensi, serta masalah yang akan dikaji secara ilmiah. Latar belakang yang kuat disusun dengan memperhatikan unsur fenomena, data pendukung, identifikasi masalah, kesenjangan penelitian, serta konsistensi dengan judul dan rumusan masalah. Dengan penulisan yang runtut, logis, dan berbasis data, latar belakang tidak hanya memudahkan pembaca memahami fokus penelitian, tetapi juga meningkatkan peluang skripsi disetujui oleh dosen pembimbing.

Oleh karena itu, mahasiswa perlu mulai menulis latar belakang dengan strategi yang tepat dan terencana. Hindari penulisan yang asal-asalan, dan luangkan waktu untuk menyusun alur pemikiran secara sistematis sejak awal. Dengan pemahaman yang baik dan pendekatan yang benar, menulis latar belakang skripsi bukan lagi menjadi bagian yang menakutkan, melainkan langkah awal yang meyakinkan menuju penelitian yang berkualitas.

Namun, jika Anda memiliki permasalahan serius maupun keterbatasan dalam mengerjakan latar belakang skripsi, Akademia bisa membantu Anda untuk menyelesaikan step by step skripsi yang terasa menyulitkan. Konsultasikan semua permasalahan skripsi Anda sekarang di Akademia!

SOP Usaha Service Drone

 

Open chat
Halo, apa yang bisa kami bantu?