
Menemukan rumusan masalah penting untuk keberhasilan penelitian. Rumusan masalah membantu mengidentifikasi isu yang harus diatasi dan memandu peneliti dalam menetapkan tujuan yang jelas. Ini juga menjadi dasar untuk merumuskan tujuan, memilih metode, dan menentukan jenis data yang diperlukan. Tanpa rumusan masalah yang jelas, penelitian bisa kehilangan arah dan sulit mencapai hasil yang relevan secara akademis.
Setelah memahami Perbedaan Antara Manfaat Teoritis dan Manfaat Praktis, kini saatnya mendalami bagaimana peneliti dapat menemukan rumusan masalah dengan tepat. Artikel ini membahas proses identifikasi gap, penyusunan pertanyaan penelitian, serta penentuan fokus pembahasan sebagai langkah kritis untuk membentuk struktur penelitian yang kuat dan terarah.
Identifikasi Gap
Identifikasi gap adalah proses menemukan kekurangan informasi dalam literatur atau fenomena yang belum didefinisikan dengan baik dan penting untuk diteliti. Gap dapat muncul karena minimnya studi sebelumnya, temuan yang saling bertentangan, atau perlunya pengembangan konsep baru. Untuk menemukannya, peneliti perlu melakukan tinjauan pustaka secara sistematis, menilai kualitas penelitian terdahulu, dan membandingkan temuan antarstudi. Dengan mengidentifikasi celah ini, peneliti dapat menentukan kebaruan riset, memperjelas urgensi masalah, serta memastikan kontribusi yang bermakna bagi pengembangan ilmu. Jika gap tidak ditemukan atau tidak dijelaskan secara jelas, rumusan masalah akan menjadi lemah dan kurang relevan.
Selain itu, peneliti perlu menelaah metodologi terbaru untuk memastikan bahwa gap yang diangkat benar-benar belum terjawab dan dapat ditangani melalui pendekatan penelitian yang tepat.
Pertanyaan Penelitian
Langkah setelah mengidentifikasi gap adalah menyusun pertanyaan penelitian. Pertanyaan ini berfungsi menjembatani celah yang ditemukan dalam literatur dengan studi yang akan dilakukan, sehingga arah penelitian menjadi jelas dan terarah. Perumusan pertanyaan penelitian juga membantu menentukan batasan studi agar fokus penelitian tidak melebar dan tetap sesuai tujuan awal. Dalam proses ini, peneliti perlu mempertimbangkan relevansi gap, urgensi masalah, serta kontribusi yang ingin dicapai melalui penelitian.
Dalam penyusunannya, pertanyaan penelitian harus memperhatikan variabel, konteks, dan tujuan akademik. Pertanyaan yang terlalu luas menyulitkan proses pengumpulan data dan analisis, sementara pertanyaan yang terlalu sempit dapat membatasi hasil penelitian. Peneliti harus memastikan bahwa pertanyaan dapat dijawab dengan metode yang dipilih, baik kualitatif maupun kuantitatif. Oleh karena itu, penyusunan pertanyaan penelitian harus dilakukan secara logis, metodologis, dan sejalan dengan gap yang ditemukan agar penelitian memiliki arah dan dasar ilmiah yang kuat.
Fokus Pembahasan
Setelah merumuskan pertanyaan penelitian, peneliti perlu menentukan fokus pembahasan. Fokus ini merupakan batas ruang lingkup penelitian agar kajian tetap terstruktur dan tidak melebar pada aspek yang tidak relevan. Penentuan fokus pembahasan melibatkan pemilihan variabel, konteks penelitian, serta parameter analisis yang akan digunakan.
Dengan fokus pembahasan yang cermat, peneliti dapat menyusun alur penelitian secara sistematis dan konsisten. Fokus yang terlalu luas dapat mengaburkan tujuan penelitian dan menghasilkan temuan yang tidak jelas, sedangkan fokus yang terlalu sempit dapat mengurangi nilai penelitian. Oleh sebab itu, penentuan fokus perlu dilakukan dengan hati-hati dan seimbang agar penelitian menghasilkan temuan yang signifikan.
Baca juga: Cara Menentukan Tujuan Penelitian
Kesimpulan
Maka dari itu, menemukan rumusan masalah memerlukan proses yang terstruktur melalui identifikasi gap, penyusunan pertanyaan penelitian, dan penentuan fokus pembahasan. Ketiga aspek tersebut membantu peneliti membangun dasar penelitian yang kuat, jelas, dan relevan secara akademis. Rumusan masalah yang baik tidak hanya memandu langkah penelitian, tetapi juga menentukan kualitas dan kontribusi ilmiah dari hasil penelitian tersebut.